Sosiohumaniora

UNICEF Ungkap Ancaman Mengintai Anak dan Remaja di Era Milenial, Apa Itu?

  dindindonk.com   | Walaupun berhasil mendapatkan kesuksesan cukup besar dalam memperbaiki kehidupan anak sejak tahun 1989, UNICEF yang merupakan Lembaga anak-anak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan beberapa hal masih perlu perlu mendapatkan perhatian.

Berdasarkan laporan yang dirilis beberapa waktu lalu, UNICEF mengungkapkan kesuksesan programnya.

Namun dibalik kesuksesan itu, UNICEF mengungkapkan bahwa masih banyak anak-anak dengan tingkat kemiskinan terparah di dunia yang belum memperoleh kesetaraan hidup. Menurut UNICEF, Mereka masih jauh tertinggal ketimbang anak-anak lainnya di belahan dunia maju.

Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, menyatakan bahwa kesejahteraan jutaan orang tetap berisiko karena kemiskinan dan marginalisasi. Selain itu, berbagai tantangan klasik yang terus muncul di bidang pendidikan, nutrisi, serta kesehatan bagi anak-anak zaman sekarang juga semakin bertambah dengan berbagai tantangan baru. Henrietta menjelaskan bahwa anak-anak harus berjuang melawan ancaman-ancaman baru seperti intimidasi dan perundungan di dunia maya, penyalahgunaan online, sampai dengan perubahan iklim.

Peningkatan Gangguan Mental Anak dan Remaja

Ilustrasi: Penyakit kesehatan mental. (Foto: Camila Quintero Franco/Unsplash)

Selain itu, UNICEF menjelaskan bahwa ada hal utama yang menjadi ancaman atau bahaya besar bagi anak-anak di era milenial ini. Ancaman tersebut adalah peningkatan gangguan mental anak dan remaja (child and adolescent mental disorders). Ancaman ini memacu UNICEF, bersama-sama dengan WHO, agar bertindak cepat dan melakukan tindakan pencegahan.

Salah satu gejala gangguan mental anak dan remaja adalah rasa cemas yang berlebihan, tingginya keinginan untuk melukai diri sendiri, sampai dengan keinginan untuk mengakhiri hidup. Berdasarkan uraian UNICEF, terdapat hingga 20 persen remaja secara global mengalami gangguan mental. Kemudian, sekitar 15 persen remaja di negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mempertimbangkan bunuh diri karena merasa putus asa dalam menjalankan kehidupannya.

Tingginya tingkat kecemasan, kasus melukai diri sendiri, hingga kasus bunuh diri yang melingkupi anak-anak serta generasi muda di seluruh dunia. Hal ini mendorong UNICEF untuk bekerja sama dengan WHO serta tokoh-tokoh terkemuka dunia agar dapat mengatasi ancaman yang semakin meningkat ini.

“Terlalu banyak anak dan generasi muda, kaya maupun miskin, di keempat penjuru dunia, mengalami kondisi kesehatan mental,”

Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF.

Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF mengatakan bahwa krisis yang membayangi ini tidak memiliki batas. Dirinya menjelaskan bahwa setengah dari gangguan mental dimulai sebelum usia 14. Henrietta mendorong penggunaan strategi baru yang dapat mendesak pemikiran baru dan inovatif. Tujuannya jelas. Yaitu mencegah, mendeteksi, dan, jika perlu, mengobati gangguan mental anak dan remaja ini sejak usia dini.

Menurut data terbaru, terungkap beberapa hal yang memperlihatkan peningkatan gangguan mental anak dan remaja ini:

1. Hingga 20 persen remaja secara global mengalami gangguan mental. Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor tiga di antara anak berusia 15-19 tahun di seluruh dunia.

2. Sekitar 15 persen remaja di negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mempertimbangkan bunuh diri.


3. Biaya gangguan mental tidak hanya bersifat pribadi, tapi juga butuh pelibatan sosial dan ekonomi. Namun sayangnya, kesehatan mental anak dan remaja masih sering diabaikan dalam penetapan program-program kesehatan, baik di tingkat global maupun nasional.

Mencari Jalan Keluar

Hal ini didasari kepentingan bersama untuk mencari jalan keluar penyakit gangguan mental anak dan remaja. Selain itu untuk menjadikannya masuk dalam skala prioritas dalam agenda kesehatan global. UNICEF dan WHO menjadi tuan rumah bersama konferensi pertama mereka tentang topik tersebut di Florence, Italia, 7-9 November lalu.

Konferensi ini adalah bagian dari Leading Minds. Yaitu seri konferensi global baru tahunan UNICEF untuk menyoroti masalah-masalah besar yang memengaruhi anak-anak dan remaja di abad ke-21.

Kegiatan ini sebagai bagian dari perayaan yang menandai peringatan 30 tahun Konvensi Hak-Hak Anak. Konferensi ini akan mengarah pada rekomendasi untuk tindakan tegas yang diinformasikan oleh berbagai pihak. Mulai dari para sarjana, ilmuwan, pemerintah, dermawan, bisnis, masyarakat sipil dan kaum muda itu sendiri.

Selain itu untuk terus mendorong masyarakat agar juga untuk ikut peduli mencegah peningkatan penyakit ini. Bentuk kepedulian tersebut dengan cara ikut aktif menyuarakan hal ini di masyarakat. Melalui kegiatan-kegiatan LSM, menjadi sukarelawan UNICEF. Atau, setidaknya menjadi bagian penunjang kegiatan-kegiatannya dengan menjadi donatur bagi UNICEF.

“Terlalu sedikit anak yang memiliki akses ke program yang mengajarkan mereka bagaimana mengelola emosi yang sulit. Sangat sedikit anak-anak dengan kondisi kesehatan mental yang memiliki akses ke layanan yang mereka butuhkan. Ini harus berubah.”

Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

[###]


cover foto: ox.ac.uk

error: Content is protected !!