Sosiohumaniora

Pemilu? Tak Perlu Senang Atau Marah, Karena Tidak Ada Menang Atau Kalah

 

| dindindonk.com | Pemilu selalu menyisakan kegetiran bagi pihak yang kalah. Banyak yang mengatakan bahwa dalam kontestasi pemilihan umum atau pemilu, baik penyelenggaraan pileg, pilpres ataupun pilkada,pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Demikianlah pengertian yang terpatri di masyarakat selama ini. Hal inilah yang menyebabkan kontestasi menjadi sedemikian sengitnya. Mengapa? Karena hanya sekedar memperebutkan kemenangan dan menghindari kekalahan. Ajang yang seharusnya menjadi pesta demokrasi, menyempit menjadi ajang perebutan posisi menang dan kalah.

Padahal sesungguhnya tidak demikian. Pesta demokrasi seharusnya menjadi selebrasi bagi semua yang terlibat didalamnya. Masyarakat akan dimanjakan dengan berbagai pilihan sosok serta program yang ditawarkan. Sementara dari pihak peserta, baik calon legislatif, partai, ataupun pasangan calon, mencoba menawarkan program-program terbaik untuk melayani masyarakat serta menjadi solusi memecahkan berbagai permasalahan.

Pemilu adalah Pesta Merebut Kepercayaan

Puncak pesta demokrasi muncul pada saat masyarakat memilih dan menetapkan pilihannya. Pihak yang kemudian menduduki kursi karena mendapatkan suara terbanyak. Mereka mendapatkan tugas menjalankan amanat rakyat serta menjalankan berbagai program serta janji yang telah diucapkannya  kepada masyarakat. Sementara, pihak yang tidak berkesempatan menduduki kursi karena tidak mendapatkan suara serta kepercayaan yang besar. Nah, pihak yang mendapatkan kepercayaan dan juga  tidak mendapatkan kepercayaan seharusnya introspeksi.

Bagi yang mendapatkan kepercayaan dan amanah tidak perlu merasa senang karena mendapatkan  kepercayaan. Karena sejatinya, kepercayaan dan amanah itu adalah sesuatu yang sangat berat pertanggungjawabannya, baik di mata masyarakat maupun di hadapan Tuhan. Segala janji dan program menjadi utang yang harus dilunasi serta diwujudkan.

Sementara bagi yang tidak mendapatkan kepercayaan tidak perlu marah dan merajuk. Introspeksi mengapa programnya tidak mampu membuka pintu kepercayaan masyarakat secara optimal. Lalu, menjalankan tugas yang tidak kalah mulia, sebagai penyeimbang yang berfungsi mengontrol segala kebijakan pemegang amanat rakyat. Dengan demikian, mereka tetap berjalan dalam jalur yang selaras dengan janji dan kebutuhan masyarakat.

Kesimpulan

Pemilu adalah sebuah pesta biasa dalam proses demokrasi yang akan selalu berulang. Semua pihak harus dapat menerima dengan dewasa dan bijak. Jadi, sudah tidak ada perlunya merasa senang atau marah, karena dalam penyelenggaraan pemilihan umum tidak ada pihak yang menang atau kalah. Masing-masing memiliki tanggung jawab yang tidak ringan, karena baik yang mendapat kepercayaan maupun tidak, sama-sama memiliki tugas serta fungsinya masing-masing. Tujuan akhirnya pun jelas, yaitu membangun masyarakat yang maju, adil dan makmur. [###]

error: Content is protected !!