Milenial Mau Memiliki Hunian? Tapera Bikin Mimpi Punya Rumah Pertama Jadi Kenyataan

Dok. Kompu PnP (Foto: perumahan.pu.go.id)

Rumah adalah tempat cinta, harapan, dan impian mulai tebersit. Tapi apa daya, harga rumah kian tak terjangkau membuat harapan dan impian itu menggantung tinggi di langit.

Memiliki rumah atau hunian, atau lazim disebut dengan istilah papan, adalah kebutuhan yang beriringan dengan sandang dan pangan sebagai hajat mendasar setiap insan. Hanya saja, jalan memenuhi kebutuhan serta mewujudkan mimpi memiliki rumah begitu panjang dan berliku. Jangan dulu bicara memiliki rumah sebagai sarana investasi. Saat ini, bagi sebagian besar masyarakat, perlu upaya dan dana luar biasa untuk dapat menikmati tidur di bawah atap rumah pertama miliknya sendiri.

Baik tua dan muda pasti bermimpi memiliki rumah. Termasuk milenial, yang memiliki keinginan meraih mimpi rumah pertama. Generasi milenial masuk dalam perbincangan utama terkait kemampuan memiliki rumah atau hunian ini karena dua hal. Pertama, karena milenial adalah generasi masa depan bangsa ini. Kedua, komposisi kependudukan generasi milenial atau angkatan yang lahir antara tahun 1981-2000 berjumlah 88 juta jiwa. Angka itu sebagaimana dikutip dari Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial terbitan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik 2018, menurut Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2017. Jumlah tersebut setara 33,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia, dan diperkirakan akan terus naik.

Tentu saja, pemenuhan kebutuhan papan masyarakat Indonesia, termasuk juga generasi milenial sebagai bagian besar dari masyarakat dan generasi masa depan turut mendapat perhatian pemerintah. Terlebih, dengan peran generasi milenial sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional saat ini dan masa datang. Pemenuhan kebutuhan hunian untuk generasi milenial yang sangat besar ini menjadi penting, karena bila terpenuhi juga akan turut mendorong naik tingkat kesejahteraan masyarakat.

Peluncuran Tapera 

Sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat, maka pemerintah meluncurkan Tapera, atau Tabungan Perumahan Rakyat. Peluncuran itu ditandai dengan penandatanganan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2020 oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Mei 2020 lalu.

PP Nomor 25 Tahun 2020 berisi tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat atau Tapera. Penandatanganan PP ini menjadi payung hukum penyelenggaraan pungutan iuran. Nantinya, pungutan ini akan segera dilakukan dalam waktu dekat oleh Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat ( BP Tapera). BP Tapera akan berperan sebagai pihak pemungut sekaligus pengelola dana untuk perumahan bagi PNS, prajurit TNI dan Polri, serta pekerja di perusahaan BUMN dan BUMD. Termasuk juga menargetkan pekerja perusahaan swasta, pekerja mandiri, serta pekerja sektor informal.

Melalui Tapera, harapannya pekerja berpenghasilan rendah mendapatkan kemudahan serta perlindungan dalam pemenuhan hak untuk memiliki rumah.

Keberadaan Tapera juga dapat menghilangkan dua ganjalan utama dalam proses memiliki rumah.

  • Pertama, selama ini para pekerja menghadapi berbagai persyaratan rumit serta kesulitan untuk dapat memiliki hunian. Tapera akan membantu para peserta, salah satunya dengan ikut memberikan tanggung jawab bagi pemberi kerja dalam membantu pekerja mereka untuk mendapatkan hunian.
  • Kedua, menghilangkan atau setidaknya mengurangi risiko kehilangan dana imbas dari berbagai kasus penipuan berkedok bisnis  penyediaan perumahan yang tidak dapat dikontrol validitasnya oleh pemerintah. Tapera memberikan perlindungan melalui pemberian nomor identitas kepada peserta. Fungsi nomor identitas ini sebagai pencatatan administrasi, bukti kepesertaan, simpanan, dan akses informasi Tapera.

Tapera Cocok bagi Milenial

Mengapa Tapera disebut cocok bagi milenial? Setidaknya ada dua hal yang mendasari pemikiran ini. Pertama, hasil riset Alvara Research yang dilakukan pada 2017 silam. Riset berjudul “The Urban Middle-Class Millennials Indonesia: Financial and Online Behavior” ini menemukan bahwa tabungan adalah produk keuangan yang paling diingat oleh mayoritas generasi milenial dengan persentase mencapai 79,8 persen.

Familiar dengan tabungan tentu akan membuat Tapera lebih mudah dipahami dan diterima oleh generasi milenial. Penerimaan dan pemahaman itu karena mereka sudah tidak asing dengan tabungan.

Kedua, alasan kemajuan teknologi yang  serba mudah mendorong sifat konsumtif generasi milenial yang lebih banyak melakukan belanja daring (online).

Keberadaan Tapera akan mengurangi sifat konsumtif tersebut, karena pendapatan mereka akan “dipaksa” dialokasikan untuk pembayaran iuran bulanan.

Lalu, Bagaimana Syarat Mendapatkan Tapera?

Berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2020, Pemberi Kerja sektor swasta diberikan kelonggaran oleh pemerintah untuk mendaftarkan Pekerjanya paling lambat tujuh tahun setelah ditetapkannya PP Penyelenggaraan Tapera.

Kemudian, besaran iuran untuk simpanan Tapera pun tidak memberatkan. Besarannya ditetapkan di angka 3 persen dari gaji atau upah. Iuran ini ditanggung bersama, dengan porsi Pekerja sebesar 2,5 persen, dan sisanya Pemberi Kerja sebesar 0,5 persen.

Setelah dana terkumpul, BP Tapera diberikan amanat untuk mengelola dan menginvestasikan simpanan milik Peserta secara transparan dan akuntabel. Pengelolaan ini menggandeng pihak Manajer Investasi, Bank Kustodian, serta KSEI. Peserta dapat aktif memantau hasil pengelolaan simpanan miliknya sepanjang waktu melalui kanal-kanal informasi yang disediakan pihak BP Tapera sebagai pengelola dan juga pihak KSEI.

Peserta memiliki hak mengajukan manfaat pembiayaan perumahan dengan bunga murah sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Selain itu, peserta dapat memperoleh manfaat pembiayaan untuk membangun rumah di lahan milik sendiri atau melakukan renovasi. Manfaat pembiayaan ini dapat diajukan oleh Peserta yang memenuhi kriteria setelah satu tahun masa kepesertaan melalui berbagai pilihan bank dan lembaga pembiayaan lainnya.

Fleksibilitas pembiayaan yang dihadirkan Tapera mengikuti prinsip plafon kredit yang ditetapkan sesuai standar minimum rumah layak huni.

Tapera Sebagai Harapan Mewujudkan Impian

Program Tapera hadir sebagai harapan mewujudkan impian memiliki rumah pertama. Selain itu, pemenuhan kebutuhan hunian tentu diharapkan akan menjadi faktor pendorong ekonomi melalui pertumbuhan di sektor perumahan.

Kehadiran Tapera akan memupuk kembali semangat menabung masyarakat, terutama generasi milenial. Mungkin awalnya menyisihkan sebagian kecil pendapatan dengan perasaan terpaksa, namun nantinya akan terbiasa. Apalagi pemaksaan ini untuk maksud positif, yaitu demi mewujudkan kebutuhan dan mimpi akan adanya rumah idaman.

Tapera pun menjadi gambaran tentang pentingnya disiplin guna menggapai mimpi.  Iuran bulanan yang dibayarkan dengan memotong pendapatan dapat diibaratkan proses disiplin dengan mengorbankan sesuatu secara berkelanjutan demi mendapatkan hal yang lebih besar.

Rumah sebagai sebuah tempat tinggal penuh dengan cinta, kenangan diciptakan, teman selalu menjadi bagian, dan tawa tidak pernah berakhir. Semua itu tidak lagi menjadi impian di awang-awang. Berkat Tapera, mimpi rumah pertama bisa terwujudkan di masa datang. 


DISCLAIMER: Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional 2020.

BAHAN BACAAN:

  • https//perumahan.pu.go.id/
  • https//pu.go.id/
  • https//databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-mencapai-267-juta-jiwa
  • https//databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/01/02/inilah-proyeksi-jumlah-penduduk-indonesia-2020
  • https//alvara-strategic.com/wp-content/uploads/whitepaper/The-Urban-Middle-Class-Millenials.pdf
  • https//peraturan.bpk.go.id/Home/Details/137950/pp-no-25-tahun-2020
  • https//tirto.id/mengapa-generasi-milenial-sulit-mengelola-keuangan-eeDV
Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial kamu:
  • 1
  •  
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
error: Content is protected !!