Ikhtiar Tak Kunjung Padam di Pedalaman Demi Meningkatkan Kualitas Kesehatan

meningkatkan kualitas kesehatan | Tim medis Korindo melakukan kunjungan medis ke beberapa desa di Kabupaten Boven Digoel, Papua. (sumber: korindonews.com)
Tim medis Korindo melakukan kunjungan medis ke beberapa desa di Kabupaten Boven Digoel, Papua. (sumber: korindonews.com)

Meningkatkan kualitas kesehatan di daerah pedalaman adalah sebuah perjuangan. Tidak ringan memang. Itulah sebabnya, membutuhkan ikhtiar yang tak kunjung padam dengan keikhlasan tak berpematang. Melawan rasa lelah dan penat sungguh menjadi tantangan berat. Tapi, menyaksikan senyum sumringah warga dan sayup-sayup terdengar tawa riang gembira di tengah masyarakat yang sehat sentosa, semua rasa lelah dan penat itu luruh tergantikan perasaan bahagia.

Suatu hari di pinggiran Sungai Digoel. Sebuah keramaian terjadi di waktu pagi itu. Jam menunjukkan pukul 7.30 waktu setempat. Serombongan orang dengan bawaannya tampak bergegas menaiki perahu bermesin tempel. Tak lama, mereka pun berangkat menyusuri sungai di wilayah yang namanya cukup terkenal sebagai “tempat pembuangan” para tokoh pejuang kemerdekaan dulu.

Perjalanan mengarungi sungai di pedalaman itu memakan waktu 3,5 jam. Setelah sampai, mereka pun turun dari perahu tersebut. Dalam rombongan terdapat dokter dan beberapa tenaga medis. Bawaan yang diturunkan dari perahu terdiri dari berbagai jenis obat, vitamin serta makanan tambahan dengan kandungan gizi tinggi.

Tak jauh berjalan semenjak turun dari perahu itu, sampailah mereka di salah satu perkampungan warga yang banyak terdapat di sepanjang tepian Sungai Digoel. Sebuah sungai di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Mereka hadir di perkampungan itu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi para warga di pedalaman.

Sekelumit kisah tadi merupakan gambaran tentang perjuangan para dokter dan tenaga medis. Sebuah ikhtiar guna menghadirkan pelayanan kesehatan bagi sesama anak bangsa ini yang tinggal di wilayah pedalaman Papua.

meningkatkan kualitas kesehatan | Sungai Digoel, Kabupaten Boven Digoel, Papua. (Foto: korindo.co.id)
Sungai Digoel, Kabupaten Boven Digoel, Papua. (Foto: korindo.co.id)

Kesenjangan Kesehatan Masih Terjadi

Kesenjangan pelayanan kesehatan masih menjadi masalah yang perlu dituntaskan. Kondisi pelayanan kesehatan di daerah pedesaan dan daerah pedalaman masih dirasakan sangat besar ketimpangannya dengan kondisi pelayanan kesehatan di daerah perkotaan.

Menurut WHO, separuh penduduk dunia saat ini tinggal di pedesaan, daerah terpencil dan pedalaman. Masalahnya, para pekerja kesehatan seperti dokter, bidan, dan perawat banyak tinggal dan bekerja di wilayah perkotaan. Perihal ini menciptakan ketidakseimbangan soal ketersediaan para pekerja kesehatan.

Selain ketidakseimbangan jumlah pekerja kesehatan, masih juga terdapat perbedaan jauh terkait kualitas pelayanan kesehatan. Belum lagi bila ikut menyebutkan infrastruktur dan sarana serta prasarana kesehatan antara wilayah perkotaan dibandingkan dengan pedesaan serta daerah pedalaman.

Perbedaan-perbedaan kualitas pelayanan maupun infrastruktur kesehatan ini menciptakan kesenjangan dan menjadi tantangan terhadap penyediaan layanan kesehatan secara menyeluruh.

meningkatkan kualitas kesehatan | ilustrasi kesenjangan pelayanan kesehatan
ilustrasi. (olah grafis: dindindonk.com)

Kondisi ini pun masih terjadi dan dirasakan di Indonesia, yang masih terus berupaya melakukan pemerataan pelayanan kesehatan khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terpencil di perbatasan dan pedalaman.

Upaya Indonesia Mengurangi Kesenjangan Pelayanan Kesehatan

Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia.

Pasal 28 H ayat 1 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Selanjutnya pada pasal 34 ayat 3 dinyatakan bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh organisasi kesehatan dunia, WHO. Konstitusi WHO yang didirikan pada tahun 1948 menyatakan, “Menikmati standar kesehatan tertinggi adalah salah satu hak dasar setiap manusia tanpa membedakan ras, agama, keyakinan politik, kondisi ekonomi atau sosial”.

meningkatkan kualitas kesehatan

Pelayanan kesehatan telah diamanatkan oleh UUD 1945, dan digariskan oleh WHO.

Pemerintah pun terus berupaya mewujudkannya. Periode pemerintahan Presiden Joko Widodo yang masih berlangsung saat ini juga sangat memperhatikan pembangunan pelayanan kesehatan, terutama terkait pemerataan pembangunan di daerah pinggiran dan pedalaman.

Ide pemerataan pembangunan di daerah pinggiran dan pedalaman itu termaktub dalam program pembangunan Jokowi, yaitu Nawacita, melalui salah satu poinnya yang populer, “membangun Indonesia dari pinggiran”. Harapannya, tentu saja untuk menghadirkan pemerataan pembangunan, termasuk soal meningkatkan kualitas kesehatan di wilayah pinggiran dan pedalaman.

Presiden Jokowi pun sejak awal masa pemerintahannya telah memberikan arahan agar aparatur pemerintah memperhatikan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, pedalaman, perbatasan, dan kepulauan.

Agar diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan dasar maupun pelayanan kesehatan rujukan, terutama di daerah-daerah terpencil, kawasan perbatasan, dan juga daerah kepulauan.

Presiden Joko Widodo, dalam Rapat Terbatas 5 Oktober 2016.

Upaya pemerintah melakukan pemerataan dan meningkatkan kualitas kesehatan di wilayah terpencil, pedalaman, perbatasan, dan kepulauan sesuai arahan Jokowi tadi dapat terlihat dari 5 langkah penguatan layanan kesehatan. Kelima langkah itu terdiri dari peningkatan akses, peningkatan mutu, regionalisasi rujukan, penguatan dinas kesehatan, serta dukungan lintas sektor.

meningkatkan kualitas kesehatan

Dua poin dalam langkah penguatan kesehatan tersebut yaitu peningkatan akses dan peningkatan mutu sangat penting sebagai dasar meningkatkan kualitas kesehatan di pedalaman.

Langkah pertama, yaitu peningkatan akses dapat diwujudkan melalui beberapa hal. Mulai dari pemenuhan tenaga kesehatan, peningkatan sarana pelayanan primer (contohnya klinik pratama, Puskesmas, dan dokter praktek mandiri), pemenuhan prasarana pendukung (alat kesehatan, obat, dan bahan habis pakai).

Selanjutnya, peningkatan akses melalui inovasi guna mewujudkan pelayanan di daerah pedalaman dan sangat terpencil juga diperlukan. Contohnya, dengan pendekatan pelayanan kesehatan bergerak, gugus pulau, atau telemedicine.

Langkah kedua, yaitu peningkatan mutu. Dimulai dari peningkatan fasilitas penyelenggara layanan. Kemudian diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia bidang kesehatan.

Peningkatan mutu SDM kesehatan dapat dilakukan diantaranya melalui: (1) penyediaan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) atau standar prosedur operasional (SPO), (2) peningkatan kemampuan tenaga kesehatan (nakes), dokter layanan primer (DLP), dan (3) akreditasi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Akan tetapi, upaya-upaya pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan masih mendapatkan hambatan. Ada beberapa kendala yang membuat upaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat belum dapat tercapai secara maksimal.

Kendala di Tengah Upaya Meningkatkan Kualitas Kesehatan

meningkatkan kualitas kesehatan
Ilustrasi. (olah grafis: dindindonk.com)

Meningkatkan kualitas kesehatan terus diupayakan oleh pemerintah. Walau demikian, beberapa kendala masih menghambat upaya tersebut. Mengatasi kendala ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat soal pelayanan kesehatan berkualitas dapat terpenuhi dengan baik oleh pemerintah.

Menurut paparan Chapters Indonesia (Center for Healthcare Policy and Reform Studies) sebagaimana dilansir dari Kompas (19/8/2019), setidaknya terdapat 6 kendala sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Kendala-kendala itu merupakan pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi oleh pemerintah.

Keenam kendala tersebut meliputi konektivitas, regulasi, bonus demografi, kondisi geografis negara kepulauan, pelayanan kesehatan rendah, dan pemanfaatan teknologi belum maksimal.

meningkatkan kualitas kesehatan

Dari enam poin itu, kendala berupa kondisi geografis negara kepulauan dan pelayanan kesehatan rendah mewakili alasan masih kurangnya kualitas kesehatan di daerah pedalaman dan pinggiran.

Di satu sisi, negara kepulauan memberikan dampak positif berupa keberagaman potensi sumber daya alam. Namun, di sisi lain, hal ini juga memberikan dampak negatif dalam hal distribusi pelayanan kesehatan, karena kesulitan dalam hal pencapaian ke tempat-tempat yang cenderung terpencil dan di pedalaman. Kalaupun ada, kualitas pelayanannya pun rendah.

Pemerintah memang berkewajiban memenuhi kebutuhan kesehatan. Apalagi tempat-tempat seperti itu tidak dilirik oleh investor atau pihak swasta yang cenderung melihat hanya dari sisi bisnis saja. Founder dan Chairman Chapters Indonesia, Luthfi Mardiansyah pun mengungkapkan kesulitan ini.

“Apalagi secara bisnis, rumah sakit swasta tidak serta merta ingin membangun cabangnya di tempat terpencil. Akhirnya investor maunya investasi di daerah-daerah yang punya impact banyak sehingga ada disparitas di sini. Ini memang susah karena luas sekali, pemerintah pun saat ini sulit menemukan cara yang bagus bagaimana,”

Founder dan Chairman Chapters Indonesia (Center for Healthcare Policy and Reform Studies), Luthfi Mardiansyah

Bila kendala-kendala kesehatan yang telah disebutkan tadi dapat diatasi dengan baik, sistem pelayanan kesehatan di Indonesia akan lebih merata dan terintegrasi secara apik. Namun, dengan kesulitan pemerintah memberikan pelayanan serta meningkatkan kualitas kesehatan, lalu siapa yang akan turun tangan?

Turun Tangan Demi Ibu Pertiwi Tercinta

meningkatkan kualitas kesehatan
Ilustrasi: Turun tangan membantu sesama. (olah grafis: dindindonk.com)

Ikhtiar dan ketulusan adalah awal dari upaya turun tangan membantu orang lain. Karena, untuk membantu orang lain hanya membutuhkan hati yang tulus tanpa mengharapkan imbalan. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan, banyak pihak berdatangan menawarkan bantuan.

Salah satu bantuan datang dari KORINDO. Sadar betul dengan kalimat terkenal yang pernah diucapkan oleh Presiden Amerika Serikat ke-35, tentang pentingnya memberikan bakti kepada negara terlebih dahulu tanpa pamrih.

“Jangan tanya apa yang negara Anda bisa lakukan untuk Anda, tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk negara Anda.”

John F Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35

KORINDO mengejawantahkan kalimat itu dengan sepenuh hati. Korporasi besar ini menyadari bahwa kemajuan hanya bisa dicapai secara bersama-sama. Caranya dengan ikut turun tangan demi mencapai kemakmuran masyarakat. Upaya ini sebagai inisiatif membantu pemerintah meningkatkan taraf hidup masyarakat, termasuk dalam hal meningkatkan kualitas kesehatan.

Dapat dikatakan, yang dilakukan KORINDO adalah sebuah contoh nyata bagaimana seharusnya sebuah korporasi bergerak memberikan sumbangsih nyata dan bermanfaat bagi masyarakat.

KORINDO, Melangkah Bersama Masyarakat Demi Kemajuan Penuh Maslahat

meningkatkan kualitas kesehatan
Sumber: Tangkapan layar video profil resmi KORINDO Group (korindo.co.id)

KORINDO mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1969. Sejak saat itu, perusahaan terus berkembang. Saat ini KORINDO Group memiliki diversifikasi usaha yang menjadi pemimpin dalam berbagai industri di pasar Asia Tenggara.

Selama lebih dari 50 tahun beroperasi, KORINDO telah berhasil membangun bisnis dengan memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi negara. Korporasi bertekad menjalankan bisnis sambil terus menjunjung praktik ramah lingkungan, memberikan kontribusi signifikan di masyarakat dan berorientasi masa depan.

KORINDO merasa bertanggung jawab untuk turun tangan memberikan kontribusi bagi masyarakat Indonesia. Sejak awal beroperasi, KORINDO telah berupaya membangun masyarakat berkelanjutan di berbagai bidang melalui program Corporate Social Contribution (CSC). Hal tersebut dilakukan sesuai dengan filosofi perusahaan tentang pembangunan keberlanjutan (sustainable development).

Membangun hubungan yang harmonis, bermanfaat, dan berkelanjutan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan demi peningkatan dan kesejahteraan bersama.

KORINDO Group

Filosofi perusahaan ini tertuang dalam 5 pilar program Corporate Social Contribution (CSC) KORINDO. Perusahaan menjalankan kelima pilar ini demi mendatangkan maslahat, alias mendatangkan faedah dan kebaikan bagi masyarakat banyak.

5 Pilar Program Corporate Social Contribution KORINDO

Kegiatan CSC KORINDO bertujuan memberikan kontribusi langsung terhadap kehidupan masyarakat luas. Kontribusi sosial korporasi ini memfokuskan pada program-program strategis, sistematis, dan berkelanjutan melalui 5 pilar program utama. Terdiri dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, dan infrastruktur.

meningkatkan kualitas kesehatan | info grafis

Pendidikan

Pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan merupakan salah satu kunci sukses dalam pembangunan berkelanjutan. KORINDO memperhatikan kualitas pendidikan, dengan kontribusi pengembangan berupa bantuan dana, sarana belajar, dan bus sekolah.

Kesehatan

Masalah kesehatan masyarakat termasuk yang dibenahi. Melalui program Corporate Social Contribution, KORINDO berupaya memberikan pelayanan kesehatan agar dapat menjangkau masyarakat terpencil di wilayah pedalaman.

Harapannya, kualitas kesehatan masyarakat dapat meningkat dengan membangun gaya hidup sehat.

Ekonomi

KORINDO berupaya terus meningkatkan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Caranya dengan memberikan bantuan usaha produktif seperti penunjang usaha peternakan ikan, unggas, sapi, dan babi, perkebunan karet dan kelapa sawit, serta kepemilikan unit ruko dan warung.

Selain itu, KORINDO juga memberikan pendampingan usaha produktif dan langsung. Harapannya, program pengembangan ekonomi ini dapat meningkatkan pendapatan keluarga, pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Lingkungan Hidup

Kepedulian dan upaya melestarikan lingkungan adalah perhatian utama KORINDO. Kepedulian terhadap lingkungan telah dibuktikan melalui tindakan nyata, mulai dari penanaman pohon, dan juga pembersihan lingkungan secara rutin.

KORINDO melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti pemerintah daerah, TNI, Polri, serta tokoh agama dan adat untuk bekerjasama, sehingga seluruh masyarakat dapat berperan serta dalam pelestarian lingkungan hidup.

Infrastruktur

Peran aktif KORINDO dalam pembangunan infrastruktur guna membuka daerah-daerah yang sulit dijangkau. Diantaranya, dengan aktif melakukan perbaikan jembatan, membangun sarana olah raga, dan perbaikan jalan, serta pembangunan fasilitas umum seperti air bersih, listrik, sekolah, klinik, gereja dan masjid, pasar, pertokoan, lapangan olah raga, balai desa, rumah ketua marga, dan lainnya.

Dengan adanya dukungan infrastruktur yang menjadi kebutuhan utama masyarakat, hal ini membuktikan komitmen KORINDO untuk membangun kehidupan harmonis dan sejahtera bersama seluruh pemangku kepentingan di semua lokasi.

Untuk lebih jelasnya, berikut video profil KORINDO Group:

Dari penjelasan profil video singkat itu, tertangkap jelas mengenai pesan yang ingin disampaikan KORINDO bahwa perusahaan berupaya membangun masyarakat dalam rangka mewujudkan nilai-nilai sosial terhadap sesama manusia. Termasuk dengan mengupayakan nilai koeksistensi antar sesama, dimana masing-masing dapat saling berbagi.

Perusahaan mewujudkannya dengan berkontribusi melalui berbagai macam kegiatan sosial di masyarakat, sekaligus berperan sebagai penjaga keutuhan masyarakat setempat dan mendorong pertumbuhan serta kesejahteraan bersama.

Terkait hal ini, KORINDO ikut berperan dan berkomitmen membantu membangun daerah tertinggal dan terpencil di pedalaman Papua, yang terletak di Kabupaten Boven Digoel.

Membangun Asa di Boven Digoel

meningkatkan kualitas kesehatan | ilustrasi
ilustrasi (olah grafis: dindindonk.com)

Sebagai korporasi besar yang mengembangkan bisnisnya di Indonesia, KORINDO berkomitmen ikut membantu pemerintah membangun daerah-daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) di Indonesia yang berada di pedalaman dan terpencil. Komitmen itu ditunjukkan melalui pembangunan jalan, perumahan, dan juga infrastruktur utama, yang dibutuhkan untuk pembangunan daerah.

Salah satu daerah yang mendapat perhatian adalah Boven Digoel. Lalu, bila kemudian ada yang bertanya mengapa Boven Digoel? Karena sudah ada keterikatan erat antara keduanya. Berikut ini beberapa hal tentang “keterikatan emosional” antara KORINDO dengan salah satu kabupaten di Provinsi Papua itu.

  • KORINDO berkomitmen penuh membantu pemerintah membangun masyarakat di daerah tertinggal.
  • Menurut Perpres 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024, Kabupaten Boven Digoel disebutkan sebagai salah satu daerah tertinggal.
  • KORINDO bekerja sama dengan komunitas lokal, terutama dengan tempat perusahaan beroperasi, dan Kabupaten Boven Digoel adalah salah satu tempat bisnis utama operasional perusahaan.
  • Pertama kali berekspansi ke Papua pada tahun 1993, setelah berhasil menjalankan bisnis kayu lapis, kertas dan perkebunan di pedalaman Kalimantan dan Jakarta.
  • Ada 12.300 pekerjaan langsung dan 21.000 pekerjaan konsekuensial, termasuk pekerjaan masyarakat adat setempat hingga 31%.
  • Dari angka tersebut, KORINDO telah mempekerjakan sekitar 10.000 pekerja di Asiki, Kabupaten Boven Digoel.
  • KORINDO telah memberikan kontribusi hingga 40% dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Merauke di Papua.
  • Jumlah pajak daerah yang dibayarkan KORINDO di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel masing-masing sebesar 30% dan 50% dari pajak daerahnya.
  • Sebagai kawasan bisnis utamanya di Papua, KORINDO telah membangun pusat pendidikan untuk mengembangkan keterampilan penduduk setempat dan menciptakan lapangan kerja.

KORINDO bukanlah kacang yang lupa akan kulitnya.

KORINDO menyadari bahwa tempatnya berbisnis telah memberikan begitu banyak sumbangsih bagi profitabilitas perusahaan. Sebagai perusahaan yang tahu dari mana dia berasal dan berdiri, korporasi besar ini penuh semangat dan serius membangun Boven Digoel.

Masalah kesehatan menjadi salah satu perhatian utama KORINDO. Perusahaan terus melangkah guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sana. Keseriusan soal menangani masalah kesehatan ini tergambar jelas dengan mendirikan fasilitas dan pelayanan kesehatan masyarakat, yaitu Klinik Asiki di kabupaten tersebut.

Klinik Asiki, Aksi Nyata KORINDO Meningkatkan Kualitas Kesehatan Anak Bangsa

meningkatkan kualitas kesehatan | klinik asiki
Klinik Asiki, Boven Digoel, Provinsi Papua. (Foto: korindo.co.id)

Awalnya klinik ini bernama Klinik KORINDO yang sudah beroperasi sejak 1996. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan kehadiran sebuah klinik yang lebih besar dan lengkap pun tidak bisa ditunda lagi, sebagaimana diungkapkan oleh dr Firman Jayawijaya, manager Klinik Asiki.

“Namun seiring dengan berjalannya waktu, di mana kebutuhan kesehatan yang semakin meningkat, KORINDO bersama Koica berhasil membangun klinik yang lebih besar dan representatif,”

dr Firman Jayawijaya, manager Klinik Asiki (Republika, 6 September 2017)

Keberadaan fasilitas kesehatan bernama Klinik Asiki ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Disamping itu, juga untuk memfasilitasi dan mendorong gaya hidup sehat serta pencegahan penyakit.

KORINDO Group melalui unit usaha kelapa sawitnya, PT Tunas Sawa Erma (TSE) bersama KOICA (Korea International Cooperation Agency) berhasil menghadirkan klinik modern yang terletak di Asiki, sebuah desa di pelosok Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Keberadaan Klinik Asiki ini adalah upaya KORINDO menghadirkan Kesehatan yang Baik Untuk Sesama.

Klinik ini mulai dibangun pada 2016, dan dibuka secara resmi oleh Chairman Korindo Group, Eun Ho Seung pada 6 Desember 2017. Terletak di atas lahan seluas 2.929 m2, klinik ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti rawat jalan, rawat inap, bangsal bersalin, perawatan bayi baru lahir (perinatologi), IGD, ruang operasi minor, dan peralatan USG. Fasilitas lain seperti apotek, perbekalan, dan ambulans juga tersedia.

Kehadiran Klinik Asiki merupakan bentuk dukungan terhadap salah satu program Nawacita yang terus digaungkan oleh Presiden Joko Widodo, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. KORINDO berharap kehadiran Klinik Asiki dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

“Melalui klinik ini kami berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Boven Digoel,”

Yulian Mohammad Riza, Public Relations Manager KORINDO Group. (Tribunnews, 13 September 2019)

Berikut beberapa penampakan eksterior dan interior Klinik Asiki:

Kegiatan Klinik Asiki meningkatkan kualitas kesehatan melalui pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat setempat pun dapat disaksikan melalui tampilan video berikut:

Fokus pada 8 Program Prioritas

Klinik Asiki memiliki delapan program prioritas sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman Papua. Kedelapan program prioritas tersebut yaitu:

  • Menurunkan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita dan Keluarga Berencana (KB).
  • Perbaikan status gizi masyarakat.
  • Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular diikuti dengan penyehatan lingkungan.
  • Melakukan pengembangan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
  • Pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana serta krisis kesehatan.
  • Peningkatan pelayanan kesehatan primer.
  • Meningkatkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
  • Fokus dalam meningkatkan sumber daya manusia yang profesional.

Dampak Positif Klinik Asiki Bagi Masyarakat

Sejak berdiri, Klinik Asiki sangat membantu masyarakat. Keberadaannya mendukung usaha-usaha meningkatkan kualitas kesehatan para warga. Beberapa dampak positif Klinik Asiki bagi masyarakat adalah sebagai berikut ini:

Mendekatkan

Sebelum Klinik Asiki berdiri, masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Bayangkan saja, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, masyarakat lokal harus pergi ke Tanah Merah di Boven Digoel ataupun rumah sakit di Merauke. Guna mencapai tempat-tempat itu, masyarakat harus menempuh perjalanan selama 3 hingga 12 jam.

“Pengobatan jadi lebih dekat dan lebih bagus,”

Anna Ametong, salah seorang pasien Klinik Asiki

Meringankan

Klinik Asiki ini hadir secara gratis bagi masyarakat Papua yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Kehadirannya memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat setempat. Para pasien dan warga pun bersyukur atas pelayanan kesehatan gratis yang diberikan oleh klinik ini.

Mengapa KORINDO sangat bersemangat menjalankan Klinik Asiki dan memberikan pelayanan kesehatan tanpa pamrih yang tidak menghasilkan keuntungan dan akan didedikasikan untuk pemerintah daerah di masa depan?

Ini jawaban menyentuh dr Firman.

“Tujuan klinik tidak hanya untuk mengobati orang sakit tetapi juga sebagai katalisator untuk melindungi hak asasi manusia dan kehidupan warga agar mereka dapat berdiri sendiri. dan menjalani hidup mereka sendiri,”

dr Firman Jayawijaya, manager Klinik Asiki (The Jakarta Post, 21 Juli 2020)

Memudahkan

Menyadari kesulitan warga atau pasien untuk datang ke tempat pelayanan kesehatan, Klinik Asiki berinovasi dengan konsep jemput bola. Konsep ini dengan pelayanan “mobile service clinic” atau pelayanan klinik bergerak.

Masyarakat tak perlu mendatangi klinik untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan yang akan mendatangi mereka, terutama untuk masyarakat yang berada di pedalaman.

Karlus Anggitume, Salah satu arga Desa Ujung Kia, Kabupaten Boven Digoel, Papua, mengungkapkan bahwa kegiatan pelayanan kesehatan keliling atau “mobile service clinic” oleh Klinik Asiki telah dilakukan sebanyak empat kali di desanya. Dirinya pun sangat terbantu oleh program “jemput bola” yang diadakan oleh Klinik Asiki.

“Sangat membantu kami. Khususnya anak-anak dan orang tua. Kami berharap, Klinik Asiki akan rutin mengunjungi kami,”

Karlus Anggitume, Salah satu arga Desa Ujung Kia, Kabupaten Boven Digoel, Papua (Tribunpapua, 13 September 2019)

Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

meningkatkan kualitas kesehatan
ilustrasi: Keberadaan Klinik Asiki mampu menekan angka kematian ibu (AKI) di Boven Digoel. (Foto: korindo.co.id)

Keberadaan Klinik Asiki sangat membantu upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman Papua. Salah satu keberhasilan yang signifikan adalah kesuksesannya menekan angka tingkat kematian ibu hamil, ibu baru melahirkan, dan bayi baru lahir di Boven Digoel.

Bukti keberhasilan menekan Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu dengan nihilnya pencatatan kejadian kasus kematian ibu hamil dan ibu melahirkan selama periode tahun 2015-2018.

Klinik Asiki mengandalkan mobile service clinic dan bekerja sama dengan puskesmas setempat dengan turun langsung menjangkau para ibu di desa-desa pelosok. Tujuannya untuk memberikan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya kesehatan ibu hamil.

“Kami melakukan promosi dari kampung ke kampung, mengimbau agar mereka melahirkan di klinik dengan fasilitas yang lengkap,”

dr Firman Jayawijaya, manager Klinik Asiki (korindo.co.id)

Memberikan Edukasi Kesehatan

Upaya meningkatkan kualitas kesehatan harus diiringi dengan edukasi soal kesehatan. Klinik Asiki juga memberikan edukasi kesehatan gratis kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui dokter keliling beserta ambulans dan layanan kesehatan gratis setiap dua minggu sekali.

Melalui kegiatan tersebut masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan dan imunisasi serta pengobatan gratis dan pemberikan makanan tambahan (PMT) untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.

Salah satu contoh kegiatannya yaitu memberikan penyuluhan tentang imunisasi sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan bayi dan balita di Kabupaten Boven Digoel.

Menurut dokter Defiani, wanita asli Manado yang menjadi bagian dari tim “mobile service clinic” yang memberikan pelayanan dan juga edukasi kesehatan warga yang tinggal di pedalaman, kegiatan ini adalah upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan mengubah pola pikir dan pemahaman mereka terhadap kesehatan.

“Tantangan di sini adalah mengubah pola pikir warga terhadap kesehatan dan hidup sehat,”

dokter Defiani, (korindo.co.id)

Berbagai ikhtiar dan kerja keras para awak Klinik Asiki telah memberikan dampak positif yang membekas di hati masyarakat pedalaman Papua. Pengakuan dan penghargaan atas upaya meningkatkan kualitas kesehatan ini pun lantas berdatangan.

Kesungguhan Berbuah Penghargaan

Memang benar, bahwa usaha dan upaya tidak akan pernah mendustai hasil. Upaya KORINDO melalui Klinik Asiki meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pedalamam Papua dengan kesungguhan berbuah penghargaan pengakuan secara luas.

Setelah mampu meraih penghargaan selama dua tahun berturut-turut pada 2017 dan 2018 sebagai klinik terbaik se-Papua dan Papua Barat, Klinik Asiki meraih penghargaan yang lebih tinggi lagi pada tahun 2019.

Keberadaannya di pedalaman Papua dinilai mampu meningkatkan kualitas kesehatan dan diakui oleh pemerintah.

Pada tahun 2019, Klinik Asiki dalam penilaian akhir berhasil meraih penghargaan tingkat nasional dengan predikat “FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) dengan komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta JKN-KIS kategori klinik pratama” yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Bagi dr Firman, raihan demi raihan prestasi yang berhasil disabet oleh Klinik Asiki adalah buah kerja keras dan ketulusan. Penghargaan itu akan dorongan tersendiri bagi para tenaga medis yang berbakti di Klinik Asiki untuk selalu berbenah dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pasien yang mendambakan pelayanan kesehatan berkualitas di tempat itu.

Kesehatan Berkualitas Bagi Semua

Kesehatan adalah hak asasi manusia, dan merupakan kebutuhan dasar yang harus tersedia bagi setiap insan. Upaya meningkatkan kualitas kesehatan terus dilakukan pemerintah, walau terhambat oleh kendala yang menghadang.

Namun, di tengah hambatan memenuhi itu, KORINDO berinisiatif ikut serta secara aktif dengan menghadirkan Klinik Asiki sebagai aksi dan bukti nyata meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman.

Klinik Asiki adalah gambaran KORINDO untuk selalu menghadirkan masa depan yang cerah dan selalu selangkah lebih maju dibanding lainnya, We are creating a brighter tomorrow one step ahead of the rest”.

Harapan ke depan, kemunculan Klinik Asiki dengan berbagai raihan prestasinya mampu menjadi pemicu dan menggugah semangat para anak bangsa untuk terus berbakti dan berikhtiar dalam mengupayakan dan meningkatkan kualitas kesehatan bagi masyarakat.

Pembangunan yang berhasil berjalan beriringan dengan kesehatan masyarakatnya yang juga baik. Kesehatan menjadi modal karena pembangunan membutuhkan badan dan jiwa yang sehat. Itulah pentingnya kesehatan, sebagai modal yang bahkan lebih berharga dari kekayaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Mahatma Gandhi melalui kata-kata bijaknya.

“Harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.”

Mahatma Gandhi

Demikian halnya dengan kesehatan masyarakat. Melalui masyarakat yang sehat, maka kegiatan pembangunan dapat terlaksana, dan tujuan pembangunan akan tercapai dengan sebaik-baiknya.

[###]


Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam KORINDO Blog Competition yang diselenggarakan oleh KORINDO. Informasi dan tautan artikel ini turut disebarkan di media sosial melalui akun Instagram, Facebook, dan Twitter.

Daftar Bacaan:

  • Kuatkan Layanan Kesehatan, Pemerintah Lakukan Lima Upaya Secara Simultan >>> http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20161104/2918732/kuatkan-layanan-kesehatan-pemerintah-lakukan-lima-upaya-secara-simultan/
  • WHO – Global Policy Recommendations >>> https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/44369/9789241564014_eng.pdf;jsessionid=9B1163569C9BBDED298604B9F2BFB8F6?sequence=1
  • Distribusi KIS Tepat Sasaran, Presiden Jokowi: Perhatikan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Daerah Terpencil >>> https://setkab.go.id/distribusi-kis-tepat-sasaran-presiden-jokowi-perhatikan-kualitas-pelayanan-kesehatan-di-daerah-terpencil/
  • 6 Kendala Ini Membuat Pelayanan Kesehatan di Indonesia Tak Maksimal >>> https://money.kompas.com/read/2019/08/19/171503026/6-kendala-ini-membuat-pelayanan-kesehatan-di-indonesia-tak-maksimal?page=all
  • Inilah Perpres 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024 >>> https://setkab.go.id/inilah-perpres-63-tahun-2020-tentang-penetapan-daerah-tertinggal-tahun-2020-2024/
  • Ini Daerah Tertinggal Menurut Perpres >>> https://www.kemendesa.go.id/berita/view/detil/3261/ini-daerah-tertinggal-menurut-perpres
  • Kabupaten Boven Digoel >>> https://penghubung.papua.go.id/5-wilayah-adat/anim-ha/kabupaten-boven-digoel/
  • Klinik Modern Korindo untuk Masyarakat Pedalaman Papua >>> https://republika.co.id/berita/ovt2t2423/klinik-modern-korindo-untuk-masyarakat-pedalaman-papua
  • Masyarakat Boven Digoel Papua Manfaatkan Klinik Kesehatan Modern Bernama Asiki >>> https://papua.tribunnews.com/2019/09/13/masyarakat-boven-digoel-papua-manfaatkan-klinik-kesehatan-modern-bernama-asiki?page=all
  • Tim Kesehatan Klinik Asiki Datangi Warga Pedalaman yang Sulit Mengakses >>> https://www.tribunnews.com/regional/2019/09/13/tim-kesehatan-klinik-asiki-datangi-warga-pedalaman-yang-sulit-mengakses.
  • korindo.co.id
  • korindofoundation.com
  • korindonews.com
Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial kamu:
  • 28
  •  
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
    31
    Shares
error: Content is protected !!