Jalan-jalan Ke Semarang, Jangan Lupa Kunjungi 3 Gedung Ikonik Tak Lekang Oleh Waktu Ini

Jalan-jalan ke Semarang jangan lupa mampir ke Gedung Marba.
Ilustrasi: Suasana di Gedung Marba, Semarang. (Foto: Oktavisual Project on Unsplash)

Jalan-jalan ke Semarang tak hanya perlu mencoba kulinernya yang memang mengundang selera dan penuh rasa. Gedung-gedung tuanya pun menyimpan banyak cerita. Kota yang memiliki julukan Venetië van Java alias Venesia dari Jawa pada masa kolonial Belanda itu cukup menghanyutkan dengan romansa masa lalu. Terutama dengan deretan bangunan-bangunan lawas yang masih kokoh berdiri membisu, menyimpan memori tentang kisah yang tak lekang oleh waktu. Dari sekian banyak bangunan tua yang masih terpajang, ada setidaknya tiga bangunan ikonik yang tidak boleh dilewatkan pelancong ketika jalan-jalan ke Semarang.

Ibu Kota Jawa Tengah

jalan-jalan ke semarang | Ilustrasi: Montase foto Kota Semarang (Foto: Juvan Daffa T/Wikipedia)
Ilustrasi: Montase foto Kota Semarang (Foto: Juvan Daffa T/Wikipedia)

Sebagai kota yang menjadi denyut nadi Provinsi Jawa Tengah, Semarang adalah kota terbesar di provinsi itu, dan menduduki urutan ke-5 sebagai kota metropolitan terbesar di NKRI setelah Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung.

Sama halnya dengan Jakarta yang membentuk kawasan mega urban dengan sebutan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Kota Semarang pun memiliki kawasan mega urban dengan sebutan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kota Semarang dan Purwodadi, Kabupaten Grobogan).

Laju pembangunan di kawasan Kedungsepur terbilang cukup tinggi. Segala sektor terus dipacu pembangunannya, termasuk soal pembangunan infrastruktur. Derasnya pembangunan infrastruktur, diantaranya sarana dan prasarana jalan baik dalam skala regional maupun nasional telah membuat jarak kian dekat. Kota Semarang termasuk yang mendapatkan imbas dari pembangunan tersebut, yang membuatnya semakin mudah dicapai dari berbagai penjuru.

Jalan-jalan ke Semarang Jadi Pilihan Habiskan Akhir Pekan

jalan-jalan ke Semarang | Suasana alun-alun Simpang Lima Semarang (Foto: ist/semaranginside.com)
Suasana alun-alun Simpang Lima Semarang (Foto: ist/semaranginside.com)

Salah satu alasan yang menjadikan jalan-jalan ke Semarang sebagai kegiatan berlibur dan menghabiskan waktu di akhir pekan, karena kemudahan akses menuju ke kota terbesar di Jawa Tengah itu.

Kemudahan Akses

Kamu bisa memilih berbagai moda transportasi yang tersedia. Mulai dari bis, mobil sendiri, kereta api, sampai dengan pesawat komersial.

Bila membawa mobil sendiri, tinggal menyiapkan stamina yang cukup (disamping biaya transportasi, tentunya!), mengingat perjalanan akan memakan waktu sekitar 5-6 jam melalui tol trans Jawa.

Kemudian, jika kamu memilih transportasi udara, waktu yang dibutuhkan pun kurang lebih sama bila dibandingkan dengan membawa mobil sendiri. Perhitungan waktu dimulai ketika meninggalkan rumah, naik taksi ke Terminal Bandara Soekarno-Hatta, proses check-in, menanti keberangkatan di ruang tunggu, proses boarding, lalu dilanjutkan antrian menunggu giliran pesawat untuk take-off. Setelah lepas landas, terbang kurang lebih selama 50 menit, mendarat, turun dari pesawat, proses pengambilan bagasi, keluar dari terminal yang membutuhkan waktu cukup lama, naik taksi dan sampai di hotel tujuan. Jumlah waktu yang dihabiskan untuk perjalanan dari Jakarta ke Semarang menggunakan pesawat udara ternyata memakan waktu sekitar 5 jam juga. Itu pun dengan asumsi tanpa delay.

Lalu, bila kamu memilih kereta api, perjalanannya memakan waktu sekitar 5-6 jam. Waktu yang sebanding juga bila kamu memutuskan menggunakan bis antar kota tujuan Semarang untuk jalan-jalan ke Semarang. Tak terlalu lama bukan?

Kota Nostalgia

jalan-jalan ke semarang | Ilustrasi: Pemandangan air mancur warna-warni di Tugu Muda dengan latar belakang Gedung Lawang Sewu pada malam hari yang cerah di Semarang. (Foto: Supri Yanto on Unsplash)
Ilustrasi: Pemandangan air mancur warna-warni di Tugu Muda dengan latar belakang Gedung Lawang Sewu pada malam hari yang cerah di Semarang. (Foto: Supri Yanto on Unsplash)

Sebagai ibu kota provinsi, perkembangan pembangunan di Kota Semarang ini cukup pesat. Banyak bermunculan gedung-gedung tinggi di seantero kota. Namun, di tengah derasnya pembangunan dan modernisasi, Kota Semarang masih merawat peninggalan-peninggalan masa lalu, terutama-gedung-gedung tua peninggalan masa kolonial Belanda.

Pemerintah daerah pun berupaya memfungsikan kembali gedung-gedung peninggalan-peninggalan masa lalu itu. Salah satu cara yaitu dengan menjadikannya sebagai atraksi wisata bagi para pengunjung yang ingin sekedar merasakan sepotong kehadiran masa lalu di tengah derasnya pembangunan dan modernisasi.

Bila di Jakarta ada kawasan kota tua yang berisi gedung-gedung peninggalan masa lalu. Di Kota Semarang pun ada kawasan kota lama yang juga serupa. Tak hanya di kawasan kota lama, ada juga gedung-gedung tua yang berada di luar kawasan itu, namun cukup terkenal dan ikonik.

Setidaknya ada tiga gedung ikonik yang menjadi incaran pengunjung. Pasalnya, gedung-gedung peninggalan masa kolonial Belanda itu memiliki tampilan unik. Ketiganya seringkali menjadi spot instagrammable yang layak dipamerkan di media sosial milik pribadi para pengunjung.

Lawang Sewu

jalan-jalan ke semarang | Suasana di sekitar Gedung Lawang Sewu di siang hari. (Foto: Sulthan Auliya on Unsplash)
Suasana di sekitar Gedung Lawang Sewu di siang hari. (Foto: Sulthan Auliya on Unsplash)

Gedung ikonik pertama yang tidak boleh terlewatkan adalah Lawang Sewu.

Lawang Sewu adalah sebutan dalam bahasa Jawa untuk gedung tersebut. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti seribu pintu. Awalnya, gedung ini adalah kantor dari NIS, singkatan dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Gedung yang mulai dibangun tahun 1904 ini membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikannya. Pada tahun 1907, gedung ini pun selesai dan tampil mempercantik kawasan Wilhelminaplein, sebutan bagi bundaran Tugu Muda pada masa lalu.

jalan-jalan ke semarang | Suasana selasar di Gedung Lawang Sewu. (Foto: Sulthan Auliya on Unsplash)
Suasana selasar di Gedung Lawang Sewu. (Foto: Sulthan Auliya on Unsplash)

Berdasarkan tampilan bangunan yang menarik perhatian itu, masyarakat lantas menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang terbilang cukup banyak. Walaupun pada kenyataannya, jumlahnya tidak mencapai seribu. Tampilan jendela tinggi dan lebar seperti pintu membuat orang-orang yang melihatnya menganggap jendela itu sebagai pintu (lawang).

Gedung ini paling ikonik, dan sering disandingkan bersama Tugu Muda di depannya. Sebagai informasi, Tugu Muda dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno mulai tahun 1951, dan diresmikan tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, oleh Sang Presiden.

jalan-jalan ke Semarang | Kawasan tugu muda Semarang (Foto: kissparry.com)
Kawasan tugu muda Semarang (Foto: kissparry.com)

Sebelum direnovasi, Lawang Sewu kerap dicitrakan sebagai gedung yang sarat dengan kisah horor. Namun, setelah selesai direnovasi, gedung ini seringkali menjadi tempat nongkrong kawula muda, dan juga terkadang dijadikan sebagai tempat syuting film atau video klip.

Gereja Blenduk

jalan-jalan ke semarang | Tampak depan Gereja Blenduk (Foto: cagar budaya Kemdikbud tahun 2010)
Tampak depan Gereja Blenduk (Foto: cagar budaya Kemdikbud tahun 2010)

Bangunan berikutnya yang juga merupakan gedung ikonik yang wajib dikunjungi jika kamu jalan-jalan ke Semarang adalah Gereja Blenduk. Gedung ini merupakan salah satu penanda kawasan, atau landmark, di kawasan Kota Lama Semarang. Gereja tua kebanggaan Kota Semarang ini adalah salah satu yang tertua di Jawa Tengah.

jalan-jalan ke semarang | Suasana interior ruang utama Gereja Blenduk. (Foto: Wikipedia)
Suasana interior ruang utama Gereja Blenduk. (Foto: Wikipedia)

Gereja Blenduk bernama resmi GPIB Immanuel, dan di dalam kitab-kitab lama disebut juga sebagai Harvormde Kerk, Protestansche Kerk, dan Koopel Kerk. Menurut catatan Kemdikbud, gedung yang menjadi salah satu cagar budaya ini didirikan pada 1742 dengan pendeta pertamanya adalah Johannes Wilhelmus Swemmelaar (1753-1760).

jalan-jalan ke semarang | Suasana di sekitar Gereja Blenduk, atau GBIP Immanuel sewaktu malam, Jumat (17/4/2020). (Foto: Antara)
Suasana di sekitar Gereja Blenduk, atau GBIP Immanuel sewaktu malam, Jumat (17/4/2020). (Foto: Antara)

Awalnya, gereja berbentuk rumah panggung jawa dengan atap menyesuaikan dengan arsitektur Jawa. Hal ini dapat dilihat pada Peta Kota Semarang tahun 1756 yang menunjukkan konfigurasi massa yang berbeda dengan saat kini. Bentuk bangunan Gereja Blenduk baru berubah menyerupai wujudnya sekarang ini, setelah dibangun kembali pada tahun 1894-1895, oleh H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas.

Suasana Taman Sri Gunting yang terletak di sebelah Gereja. (Foto: tribunnews.com)

Berfoto dengan latar gereja Blenduk merupakan salah satu hal wajib bila berkunjung ke sini. Taman Sri Gunting yang berada di sebelah gereja menjadi spot instagrammable favorit untuk mengambil foto dengan latar gereja ini.

Gedung Marba

jalan-jalan ke Semarang | Gedung Marba saat sedang direnovasi. (Foto: Humas Pemkot Semarang)
Gedung Marba saat sedang direnovasi. (Foto: Humas Pemkot Semarang)

Setelah berkunjung ke Gereja Blenduk, gedung ikonik berikutnya yang tak boleh luput masuk agenda tempat wajib kunjung ketika jalan-jalan ke Semarang adalah Gedung Marba. Letaknya tidak jauh dari Gereja Blenduk, karena memang lokasi kedua bangunan ini saling berseberangan saja, dipisahkan oleh jalan Letjen. Suprapto di kawasan Kota Lama Semarang.

Kamu dapat menikmati suasana sekitar Gedung Marba dan Gereja Blenduk sambil beristirahat di Taman Sri Gunting di sebelah gereja.

jalan-jalan ke Semarang | Suasana sekitar Gedung Marba di waktu malam yang sarat dengan keramaian. (Foto: dok.Kemparekraf)
Suasana sekitar Gedung Marba di waktu malam yang sarat dengan keramaian. (Foto: dok. Kemparekraf)

Gedung ini memiliki 2 lantai dan terletak di sudut jalan. Keunikan gedung ini terlihat dari tampilan bangunan dengan ornamen susunan batu bata khas gaya arsitektur neoklasik. Selain itu, dinding gedung memiliki ketebalan 20 sentimeter yang membuatnya kokoh.

Suasana Gedung Marba di waktu siang yang instagrammable (Foto: Dendi Pradipta on Unsplash)

Menurut catatan, Gedung Marba dibangun pada abad 19. Sebutan Marba adalah singkatan dari “Marta Badjunet”, seorang saudagar kaya asal Yaman. Gedung ini pernah digunakan sebagai kantor usaha pelayaran Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Di gedung ini pula menjadi tempat satu-satunya toko modern bernama “De Zeikel” yang cukup populer pada masanya.

Belum ada yang mengetahui soal kepastian umur Gedung Marba ini, namun diperkirakan lebih dari 100 tahun. Pasalnya, KITLV atau Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde pernah mengambil potret bangunan tersebut pada tahun 1910. Sebagai informasi, KITLV adalah lembaga ilmiah dengan pendalaman penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah di kawasan Asia Tenggara, Oseania dan Karibia.

Menginap di Semarang

Setelah menikmati keindahan gedung-gedung ikonik di Kota Semarang sambil ikut berbaur dalam keramaian di kawasan Kota Lama Semarang, tanpa terasa waktu telah berlalu dengan cepat. Malam telah tiba dan saatnya beristirahat. Kamu pun dapat beristirahat tenang dengan menginap di Kota Semarang. Sebagai kota metropolitan yang mendukung industri pariwisata, kota ini lengkap dan banyak pilihan pelayanan hotelnya.

jalan-jalan ke Semarang | Ilustrasi layanan kamar di hotel. (Foto: pexels/pixabay)
Ilustrasi layanan kamar di hotel. (Foto: pexels/pixabay)

Kamu dapat dengan mudah mencari hotel di Semarang yang cocok dengan anggaran serta selera. Mau hotel berbintang? bisa. Atau, kamu lebih memilih menginap di hotel murah saja? Mengingat kamu akan menghabiskan waktu seharian di luar hotel. Itu juga tidak menjadi masalah.

Tidak perlu repot-repot mencari hotel di Semarang. Bahkan, mencari dan memesan hotel dapat kamu lakukan ketika merencanakan perjalanan dan sebelum tiba di kota ini. Caranya? Mudah kok. Tiket.com akan membantu kamu mencari hotel yang cocok menjadi tempat “buang sauh” selama jalan-jalan di Semarang.

jalan-jalan ke semarang | tiket.com
Tangkapan layar laman tiket.com

Mudah kan? Cukup dengan berkunjung ke tiket.com menggunakan laptop, PC, atau melalui gawai di genggaman, kamu sudah langsung dapat mencari hotel yang paling tepat dan cocok untuk melengkapi kisah saat jalan-jalan ke Semarang.

Oh iya, berhubung saat ini sedang dalam masa pandemi COVID-19, kamu perlu terus menjaga kesehatan ya, agar kuat menghadapi kenyataan ketika berjalan-jalan. Jangan lupa untuk mematuhi peraturan setempat dan selalu melakukan 3M, yaitu Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak. Have fun and stay safe ya!

[###]

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial kamu:
  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
error: Content is protected !!