GGF Komitmen Terapkan Ekonomi Sirkular dan Berkelanjutan, Menjawab Keresahan Milenial dan Tantangan Masa Depan

Pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap menjaga sistem penyangga kehidupan bumi, yang menjadi tumpuan kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan. (Griggs, et al. 2013)

ggf, ekonomi sirkular, berkelanjutan
Ilustrasi. (Foto: Akil Mazumder/Pexels)

“Pesan saya adalah: Kami akan mengawasi anda!”

“Ini semua adalah sebuah kesalahan. Saya seharusnya tidak berada di sini. Saya seharusnya ada di sekolah, di sisi lain samudera ini. Tapi sayangnya, Anda datang kepada kami generasi muda untuk meminta sebuah harapan.

Berani-beraninya anda!”

“Anda merenggut mimpi dan masa kecil saya dengan kata-kata kosong. Tapi saya masih termasuk yang beruntung. Banyak orang menderita dan sekarat. Seluruh ekosistem sedang mengalami keruntuhan, dan kita berada di ambang kepunahan massal. Dan Anda semua hanya berbicara tentang uang dan dongeng soal pertumbuhan ekonomi abadi.

Berani-beraninya Anda!”

Greta Thunberg dengan penuh emosional menumpahkan unek-uneknya di hadapan para pemimpin dunia. Kejadian itu berlangsung saat pertemuan puncak soal iklim yang diselenggarakan PBB (UN Climate Action Summit) pada 23 September 2019 lalu.

Greta Thunberg. (Foto: Tangkapan layar Youtube PBS NewsHour)

Ungkapan Greta, seorang remaja asal Swedia kelahiran 3 Januari 2003, mewakili suara-suara keresahan generasi milenial dan generasi z (gen z) sebagai generasi muda yang akan mewarisi masa depan Bumi dengan segala isinya di masa kini dan masa depan.

Sebagai generasi yang terlahir dalam suasana dan masa dimana pembicaraan soal lingkungan hidup dan perubahan iklim telah menjadi topik hangat, generasi milenial dan generasi z menjadi generasi muda yang sangat memperhatikan isu-isu lingkungan.

Jajak pendapat Gallup (2019) di Amerika Serikat menemukan bahwa, “perhatian publik tentang pemanasan global dan keyakinan bahwa manusia bertanggung jawab agar kondisi lingkungan tetap stabil berada atau dekat pada titik tren tertinggi.”

Berdasarkan jajak pendapat tersebut, terungkap fakta bahwa 67% orang yang berusia 18 hingga 29 tahun dan 49% dari mereka yang berusia 30 hingga 49 tahun mengatakan bahwa pemanasan global adalah nyata, buatan manusia, dan ancaman serius.

Sementara, sebuah studi yang dilakukan oleh Sumas (Sustainability Management School) asal Swiss (2019) menunjukkan bahwa 87% generasi milenial “percaya bahwa perusahaan harus menangani masalah sosial dan lingkungan yang mendesak”.

Jadi, terlihat bahwa generasi milenial dan gen z sebagai generasi muda sangat memperhatikan dan menuntut soal lingkungan. Mereka menempati bagian besar di masyarakat, dan juga generasi masa depan bangsa ini. Menurut Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) BPS tahun 2017, komposisi kependudukan generasi milenial atau angkatan yang lahir antara tahun 1981-2000 berjumlah 88 juta jiwa. Jumlah tersebut setara 33,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia, dan diperkirakan akan terus naik.

Generasi muda juga merupakan bagian penting dari karyawan sebuah perusahaan, termasuk juga sebagai basis pasar bisnis perusahaan. Artinya, pola bisnis dan program CSR tentang kelestarian lingkungan tak hanya sekadar memasang jargon soal memerangi perubahan iklim. Baik pola bisnis serta program CSR, serta hal-hal lain yang dilakukan perusahaan terkait lingkungan melalui tindakan nyata. Tindakan itu berupa bisnis yang mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainability) yang tentunya akan dapat menarik hati generasi muda, dan mengundang minat untuk memakai produk perusahaan.

Respons Perusahaan

Perusahaan tidak dapat menghindari ini. Suka atau tidak suka, cepat atau lambat, pembangunan berkelanjutan (sustainability) adalah kunci untuk dapat terus bertahan. Pembangunan berkelanjutan diperlukan bagi keberlanjutan perusahaan agar tetap eksis di masa kini serta masa depan.

Perusahaan tidak lagi sekedar beroperasi dalam rangka menghasilkan produksi guna memenuhi kebutuhan atau konsumsi masyarakat, namun dengan meninggalkan sisa berupa limbah dengan dampak-dampak merugikan bagi lingkungan, maupun dampak sosial di masyarakat. Sekarang perusahaan tidak lagi serta merta mengejar keuntungan, tapi juga harus menjalankan bisnis yang mengoptimalkan nilai dan manfaat bagi para pemangku kepentingannya (stakeholder) berupa kesejahteraan bersama, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas Donaldson dan James Walsh (Toward a Theory of business, 2015). Bahkan, menurut Alex Edman, (The Social Responsibility of Business, 2015), sebuah perusahaan menjalankan bisnis karena ingin mencapai tujuan mulia. Dan dengan mencapai tujuan itu, maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan.

“Bisnis ada untuk melayani suatu tujuan. Dan dengan melakukan itu, dan hanya dengan melakukan itu, mereka akan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. Untuk mencapai keuntungan, ikuti jalan tujuan.”

Alex Edman

Jadi, perusahaan perlu memikirkan nilai, manfaat serta tujuan mulia dari bisnis yang dijalankannya bagi kesejahteraan masyarakat luas dan untuk keberlanjutan (sustainability). Hanya dengan mencapai itu, maka perusahaan dapat memperoleh profit dan menjalankan keberlanjutan perusahaan.

Lalu, bagaimana perusahaan merespons tuntutan untuk lebih peduli soal lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (sustainability)?

Ekonomi Sirkular

Urgensi isu-isu keberlanjutan menurut GlobeScan and SustainAbility (2020) juga memperlihatkan bahwa seluruh isu keberlanjutan cenderung naik urgensinya di mata pakar sejak survei pertama kali dilakukan pada tahun 2011. Perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan limbah menunjukkan peningkatan urgensi paling tajam.

Saat ini, demi mencapai pembangunan berkelanjutan, sistem ekonomi linear (linear economy) mulai ditinggalkan. Sementara sebaliknya, ekonomi sirkular, atau circular economy, mulai banyak diperbincangkan dan dipraktekkan.

Grafis perbandingan ekonomi linear (linear economy), reuse economy, dan ekonomi sirkular (circular economy) menurut government.nl, 2017; Ozdenkci dan Sarwar, 2017. (Tangkapan layar webinar KJGGF 2020 Webinar 3 : Pemanfaatan Limbah Produksi GGF dengan Konsep Circular Economy Berkelanjutan)

Ekonomi sirkular didasarkan pada prinsip-prinsip merancang limbah dan polusi, menjaga produk dan bahan tetap digunakan, dan meregenerasi sistem alam.

Berbeda dengan model ekonomi linear dimana jalurnya mulai dari: bahan mentah – produksi – konsumsi – limbah, maka ekonomi sirkular adalah didasarkan pada prinsip-prinsip merancang untuk meniadakan limbah dan polusi, menjaga produk dan bahan tetap digunakan, serta melakukan regenerasi sistem alami. Upaya ini menciptakan model sirkularitas yang berkelanjutan. Hal ini membutuhkan lebih dari sekadar daur ulang. Ini mengubah cara di mana nilai diciptakan dan dipertahankan, bagaimana produksi dibuat lebih berkelanjutan, dan model bisnis mana yang digunakan. Ekonomi sirkular sejak awal telah didesain sedemikian rupa dengan tanpa sampah dan limbah. Dan ini adalah ciri penting ekonomi sirkular: benar-benar meniadakan keberadaan sampah serta limbah.

Pergeseran dari ekonomi linier ke ekonomi sirkular merupakan tantangan besar bagi perusahaan. Mari kita lihat gambarannya. Untuk saat ini, menurut GlobeScan and SustainAbility (2020), baru ada lima perusahaan yang dianggap oleh para pakar sebagai perusahaan paling berkelanjutan. Kelimanya yaitu Unilever, Patagonia, IKEA, Interface dan Natura & Co. Bahkan, skor untuk Unilever dan Patagonia jauh di atas yang lain, dan secara konsisten diakui oleh para pakar di seluruh dunia. Apa yang menjadi kesamaan diantara kelima perusahaan dunia itu? Ekonomi sirkular, atau sirkularitas.

Bagaimana perusahaan lainnya?

Sayangnya, masih banyak sekali perusahaan yang belum mampu mengikuti upaya mewujudkan sistem keberlanjutan ini. Berdasarkan laporan The Circularity Gap Report, terungkap kenyataan yang menyedihkan. Laporan tersebut mengatakan bahwa saat ini, ekonomi sirkular hanya 8,6% saja. Angka ini pun merupakan penurunan dari sebelumnya yang sempat mencapai level 9,1%.

“Dari semua mineral, bahan bakar fosil, logam dan biomassa yang masuk setiap tahun, hanya 8,6% yang didaur ulang. Ini telah turun dari 9,1% dalam dua tahun sejak tahunan kami. laporan pertama kali diluncurkan pada tahun 2018,” jelas laporan tahun 2020 itu. Artinya, sekitar 91,4% ekonomi masih menghasilkan sampah.

Yang menggembirakan, upaya menggalakkan ekonomi sirkular di tanah air terus mengalami penguatan sejak tiga tahun terakhir. Wacana dan praktik ekonomi sirkular mendapatkan angin segar di awal Februari 2020 lalu, dimana pemerintah RI mengumumkan komitmen untuk penerapan ekonomi sirkular. Berlanjut di pertengahan 2020 pemerintah melalui KLHK pada pertengahan 2020 mulai membuat aturan pengadaan ramah lingkungan.

Selain KLHK, Kementerian Perindustrian juga sangat aktif mendorong implementasi sistem ekonomi sirkular (circular economy) yang juga disebut ekonomi berkelanjutan. Implementasi pada sektor industri ini, selain karena telah menjadi tren dunia, juga karena dinilai mampu memberikan kontribusi besar dalam menerapkan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan, sejalan dengan tujuan dari SDGs, atau Sustainable Development Goals.

Saat ini sudah mulai bertumbuh perusahaan tanah air yang telah menerapkan ekonomi sirkular. Salah satu perusahaan di Indonesia yang serius menerapkan ekonomi sirkular ini adalah GGF. Keseriusan GGF ini menghasilkan keberhasilan. Hal ini tentu saja menjadi inspirasi perusahaan lainnya.

Komitmen GGF Demi Pembangunan Berkelanjutan dan Keberlanjutan Perusahaan

Nanas, salah satu andalan GGF (Foto: https://www.greatgiantpineapple.com)

“Great Giant Foods (GGF) belajar dari kearifan lokal, seperti kebiasaan para petani Indonesia yang tidak hanya bertani tapi juga beternak. Dimana, kotoran ternak ini digunakan sebagai pupuk tanaman. Lalu, limbah tanaman itu diolah menjadi pakan ternak. Fundamental ini yang menginspirasi GGF dalam menciptakan circular economy.”

Arief Fatullah, Senior Manager Sustainability GGF

Great Giant Foods (GGF) adalah payung dari beberapa usaha bisnis yang berada di bawahnya. Saat ini, GGF adalah eksportir nanas kaleng terbesar di dunia yang terintegrasi antara kebun dan pabriknya. Di mata dunia, GGF telah memiliki reputasi tinggi yang tak hanya melahirkan produk sesuai keinginan konsumen, tapi juga mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi melalui proses ekonomi sirkular yang ramah lingkungan serta berkelanjutan. GGF berkomitmen menerapkan ekonomi sirkular demi pembangunan berkelanjutan dan keberlanjutan perusahaannya.

GGF selalu menerapkan prinsip-prinsip utama yang dikenal dalam konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Prinsip utama ini terdiri dari 5R, yaitu:

Reduce, atau pengurangan pemakaian material mentah dari alam; Reuse, atau optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali; Recycle, atau penggunaan material hasil dari proses daur ulang; Recovery, yaitu proses perolehan kembali, dan Repair yaitu proses dengan melakukan perbaikan.

Prinsip 5R tadi diterapkan dalam model ekonomi sirkular, yang tidak hanya menggunakan pengelolaan limbah, tetapi penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan pembuatan yang bertanggung jawab dapat mendukung pengembangan industri dan pekerjaan baru, mengurangi (reduce) emisi, dan meningkatkan penggunaan sumber daya alam secara efisien (termasuk energi, air, dan bahan).

GGF mengelola limbah produksi dengan baik dan serius, karena sebagai perusahaan besar, dibutuhkan manajemen limbah (waste management) yang terkelola dengan baik. Bisa dibayangkan, limbah tersebut akan menjadi masalah besar bagi kelangsungan perusahaan dan lingkungan bila dikelola asal-asalan.

Dalam penerapan ekonomi sirkular dan berkelanjutan, GGF telah dianggap cukup berhasil. Keberhasilannya ini tidak terlepas dari tiga jurus yang diterapkannya, yaitu menerapkan zero waste management sebagai nilai tambah produk GGF. Lalu, GGF juga mengelola limbah industri secara berkelanjutan dan menghasilkan peluang bisnis. Terakhir dan tidak kalah pentingnya, GGF bersinergi dengan masyarakat sebagai pemangku kepentingan dalam rangka mencapai kesejahteraan bersama.

Zero Waste Management Sebagai Nilai Tambah Produk GGF

Ciri penting ekonomi sirkular adalah meniadakan sampah, dan hal ini betul-betul mendapat perhatian GGF. Pemanfaatan limbah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, penuh kecermatan serta terintegrasi dengan industri-industri yang berada di bawah naungan GGF.

Contohnya yaitu hasil perkebunan nanas yang dikelola GGF. Menurut penjelasan Arief Fatullah, perkebunan nanas itu menghasilkan limbah, namun limbah itu tidak dibuang. Limbah itu akan diolah agar bermanfaat. Hasilnya, berupa produk bermutu tinggi dan berkelanjutan (sustainable) bagi lingkungan dan masyarakat. Berikut Contohnya:

  • Kulit nanas sisa pengalengan tidak dibuang, tapi dikumpulkan lalu diolah untuk dijadikan sebagai pakan ternak.
  • Mahkota tanaman nanas tidak dibuang, namun dipakai lagi, dan ditanam kembali sebagai bibit. Nanti setelah panen, buahnya lalu dikemas menjadi nanas kaleng, dan mahkotanya akan ditanam lagi, begitu siklusnya selanjutnya.
  • Batang dan daun nanas juga memberi manfaat. Keduanya akan dikumpulkan untuk diolah dan dijadikan sebagai biogas.

Mengelola Limbah Industri Secara Berkelanjutan dan Menghasilkan Peluang Bisnis

GGF menggarisbawahi pengelolaan limbah agar bermanfaat, namun juga sambil mencari peluang baru. Hasilnya, selain menghasilkan produk bermutu tinggi dan berkelanjutan (sustainable) juga menghasilkan peluang bisnis yang bernilai ekonomi.

Berikut contohnya; Salah satu pengolahan limbah yang mampu menghasilkan produk baru dan menciptakan peluang bisnis yaitu keripik pisang cavendish.

Pisang cavendish dianggap sebagai produk buangan, atau limbah. Aslinya adalah buah pisang yang tertolak (reject) karena kualitasnya tidak cukup baik untuk dapat masuk ke pasar modern. Namun, buah yang tertolak ini tidak dibuang, tapi lantas dijadikan sebagai bahan baku produk baru, yaitu keripik pisang. Hasil pengolahan ini menghasilkan peluang bisnis penjualan keripik yang tentunya memberikan nilai ekonomi.

Sinergi dengan Masyarakat

Secara berkesinambungan, GGF menjalankan konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Selain itu, GGF juga bersinergi dengan masyarakat, sehingga keberadaannya memberikan nilai tambah, baik untuk perusahaan, dan juga masyarakat.

Menurut Arief, kehadiran GGF tidak sekedar menghasilkan produk yang sekedar enak, tidak sekedar memberi manfaat dan diproduksi dengan baik, namun GGF juga percaya bahwa perusahaan tidak dapat berproduksi dan mencapai kinerja dengan baik serta maju tanpa bersinergi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder).

“GGF mencoba membangun bisnisnya, tapi dengan mengoptimalkan semua pihak, termasuk petani dan peternak,” ujar Arief.

Contoh sinergi GGF dengan masyarakat terkait pengelolaan limbah secara berkelanjutan yaitu:

  • Sinergi dengan peternak sapi. Kulit nanas yang dikumpulkan lalu dijadikan pakan ternak sapi yang yang dikelola oleh peternak mitra GGF.
  • Proses pengolahan pisang cavendish menjadi keripik pisang dengan nilai ekonomis melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar perkebunan.
Ilustrasi: Produk dari Great Giant Foods (GGF) (Foto: greatgiantpineapple.com)

Pembangunan Perlu Menjaga Lingkungan

Pembangunan dengan memakai sistem atau model ekonomi sirkular dan berkelanjutan perlu terus didorong. Pasalnya, model ini terbukti ikut memperhatikan dampak lingkungan dalam setiap gerak pembangunan. Pertumbuhan ekonomi tinggi akan menjadi sia-sia bila tidak memperhatikan aspek lingkungan sekitar, baik daya dukung alam, maupun aspek masyarakatnya.

Great Giant Foods (GGF) adalah salah satu contoh perusahaan yang sangat serius menerapkan sistem ekonomi sirkular dan berkelanjutan dengan baik. Tidak heran bila-produk-produknya mendapatkan penghargaan tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Produk-produknya pun banyak tersebar dan juga banyak dicari. Dikatakan, 1 dari 5 produk nanas kaleng yang bertebaran di luar negeri adalah hasil produk GGF. Perusahaan menyadari bahwa dengan menerapkan sistem ekonomi sirkular dan berkelanjutan, akan mampu memberikan kontribusi dengan menjaga harmoni bersama lingkungan dan masyarakat, memberikan kemampuan bertahan bagi keberlanjutan perusahaan dan juga mampu menjawab pertanyaan masyarakat yang kian kritis soal lingkungan, terutama dari generasi milenial dan gen z yang peka soal itu.

[###]


DISCLAIMER: Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Kompetisi Jurnalistik Great Giant Foods (GGF) 2020

Sumber:
– KJGGF 2020 Webinar 3: Pemanfaatan Limbah Produksi GGF dengan Konsep Circular Economy Berkelanjutan >>> https//www.youtube.com/watch?v=QhKF1Tt_GpE
– PBS NewsHour: Greta Thunberg’s full speech to world leaders at UN Climate Action Summit >>> https//www.youtube.com/watch?v=KAJsdgTPJpU
– Millennials Worry About the Environment — Should Your Company? >>> – https//www.gallup.com/workplace/257786/millennials-worry-environment-company.aspx
– Millennials and their Impact on Sustainability >>> https//sumas.ch/millennials-and-sustainability/

Suka artikel ini? Silakan bagikan melalui media sosial kamu:
  • 1
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
error: Content is protected !!