Sosiohumaniora

Ajak Anak Jangan Takut Berbagi, Dimulai Dari Diri Sendiri

| Jangan Takut Berbagi | #JanganTakutBerbagi #SayaBerbagiSayaBahagia | 

Berbagi tidak semata-mata terkait soal dana, atau materi.
Berbagi di sini memiliki kalam arti lebih luas, dapat berbagi apa saja. Termasuk non materi.
Berbagi ilmu, keterampilan, pemikiran, informasi, tenaga. Semuanya dimulai dari hati.

 

“Nak, nanti kalau kotaknya sampai, uangnya jangan lupa dicemplungin ke dalam ya,” ujarku kepada anak laki-laki satu-satunya.

Tangannya menyambut selembar uang yang kuberikan kepadanya. Sambil menimang-nimang, dia lantas berkata, “Tapi Pah, kalau segini kan bisa beli semangkuk mie ayam,” ujarnya polos.

Sambil tersenyum aku menjawabnya. “Tenang nak, nanti akan dibalas dengan rezeki yang berkali-kali lipat. Jangan takut ya. Yuk sekarang kita Jumatan dulu,” sambil menggandeng tangannya menuju mesjid dekat rumah untuk beribadah salat Jumat. Kebetulan Jumat itu merupakan hari libur, jadi bisa meluangkan waktu beribadah Jumat bersama sang jagoan kecilku.

Jangan Takut Berbagi

Ungkapan polos Rui, anak keduaku yang baru duduk di kelas 2 SD itu mungkin bisa menjadi gambaran, tentang pertimbangan seseorang melepas sesuatu yang berharga bagi dirinya untuk orang lain. Rasa takut tidak dapat mendapatkan seperti itu lagi. Atau, bahkan mendapatkan yang lebih sedikit, lebih jelek, dan prasangka negatif lainnya. Itulah sebabnya orang takut bersedekah, berinfaq, berzakat, atau berbagi materi miliknya dengan orang lain yang membutuhkan.

Padahal, Allah SWT telah berjanji memberikan ganjaran terbaik, yaitu melipatgandakan setiap pemberian untuk orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Mengajarkan Anak Berbagi Kebaikan Sedari Dini

Berbagi dengan orang lain, dengan pihak di luar diri kita adalah sebuah kebaikan. Ibaratnya bahasa yang bersifat universal, kebaikan dikenal oleh semua orang. Maka, sudah sebaiknya mengajarkan kebaikan ini sedari dini. Anak-anak juga perlu diajarkan untuk jangan takut berbagi.

Sebagai orang tua, perlu untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini. Niscaya, sikap tersebut dapat terus terbentuk dalam kepribadiannya dan terbawa sampai anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan menjalani kehidupannya kelak.

Tentu saja, cara terbaik mengajarkan kebaikan adalah melalui peran penting orang tua serta sekolah tempat anak-anak tersebut mengenyam pendidikan.

Orang tua wajib mendidik kebaikan pada anak 

Terkait mengajarkan kebaikan pada anak, Islam dengan tegas mengatakan bahwa hal tersebut adalah kewajiban dari orang tua. Orang tua memiliki peran penting, dan menjadi yang pertama untuk mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya. Perintah untuk mengajarkan kebaikan sejak dini pada anak tercantum dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

Telah menceritakan kepada kami (Ismail), Telah menceritakan kepadaku (Malik] dari (Abdullah bin Dinar) dari (Abdullah bin Umar) radliallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhori 6605 – shahih)

 

Orang tua sebagai teladan

Cara terbaik bagi orang tua dalam mengajarkan dan mendidik kebaikan kepada anak-anaknya yaitu dengan memberikan contoh dari dirinya sendiri. Dengan demikian, anak akan melihat langsung praktek berbagi dari orang tuanya. Orang tua akan menjadi contoh terbaik dan panutan untuk anak-anaknya.

Sebagaimana ungkapan peribahasa “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Peribahasa tersebut menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku orang tua akan ditiru dan diduplikasikan oleh anak-anaknya. Orang tua yang gemar mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya sejak dini, maka anak-anaknya itu pun niscaya akan gemar pula berlaku baik terhadap sesamanya. Dan demikian pula sebaliknya.

Jangan Takut Berbagi

Perilaku anak adalah cerminan dari orang tuanya. Dan sesungguhnya beruntunglah para orang tua yang mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya. Ibarat bibit yang ditanam, lalu tumbuh dan akan terus berbuah sebagai amalan jariyah.

Sekolah juga punya peran ajarkan berbagi kebaikan bagi anak

Sekolah juga memiliki peran penting mengajarkan anak  untuk berbagi. Sebagaimana yang dilakukan oleh sekolah dasar tempat anakku menimba ilmu. Tiap minggu mengimbau anak-anak didik membawakan “beras jimpitan” untuk dikumpulkan di sekolah. Setelah terkumpul, para petugas langsung membagikan beras tersebut kepada para keluarga dhuafa yang berada di sekitar sekolah tersebut.

Jangan Takut Berbagi

Sekilas nampak biasa saja. Tapi, rupanya pelajaran berbagi itu membekas di hati anak-anak di sekolah. Termasuk anakku. Tiap hari pengumpulan beras, anakku selalu semangat mengingatkan orang tuanya agar menyiapkan beras jimpitan tersebut sebelum berangkat. Setibanya di sekolah, dia akan langsung mengumpulkannya dengan penuh suka cita.

Peran orangtua dan sekolah menanamkan kebaikan berbagi akan menumbuhkan empati dalam diri anak-anak. Mereka pun diharapkan dapat lebih peka dan lebih tulus dalam berbagi di kehidupannya ketika dewasa kelak.

Jangan Takut Berbagi, Karena Tidak Sekedar Materi

Banyak yang mengira bahwa berbagi hanya sebatas nominal dan materi. Padahal, berbagi lebih dari itu. Bila tidak memiliki nominal yang cukup, masih tetap dapat berbagi materi. Materi yang mungkin di mata kita sudah tidak dibutuhkan lagi, tapi di mata yang lainnya masih merupakan sesuatu yang berharga.

Contohnya Raissa, anakku yang sulung. Kejadian ini ketika lulus dari SD menuju SMP. Di sekolahnya yang baru, yaitu Madrasah Tsanawiyah di Jakarta, buku-buku pelajarannya sudah tidak dipakai. Sementara, adiknya juga masih belum membutuhkannya. Padahal kondisi buku-buku pelajarannya masih cukup terawat baik, dan lumayan menumpuk (total ada 2 kardus besar). Sebagai orang tua, menyarankan sang anak untuk membagi buku-buku pelajaran itu kepada yang membutuhkan. Alhamdulillaah, dia dengan senang hati menyetujuinya. Maka diputuskan untuk membagi buku-buku tersebut.

Kebetulan, sekolahnya membuka program pembagian buku-buku pelajaran kepada yang membutuhkan. Selanjutnya, buku-buku tersebut pun dikumpulkan di sekolah untuk kemudian diserahkan kepada pemakainya yang baru.

Jangan Takut Berbagi

Ternyata, anak-anak terlihat sangat antusias membagikan buku-buku tersebut. Terpancar perasaan gembira dan suka cita bahwa dirinya sudah melakukan sebuah kebaikan. Mereka merasa bahagia dengan berbagi bukunya untuk anak-anak lain yang masih membutuhkan buku-buku pelajaran itu.

Yuk kita berbagi!

Selain nominal (uang) dan materi (barang atau fasilitas), berbagi juga bisa dengan hal lainnya. Sebut saja dengan ilmu yang telah kita pelajari. Berbagi keterampilan yang kita kuasai. Berbagi tenaga, serta berbagi konten positif.

Jangan Takut Berbagi

Bahkan, bila tidak memiliki modal apapun, kamu masih tetap dapat berbagi. Caranya pun terbilang sangat mudah, yaitu dengan membagi senyumanmu kepada orang lain. Cukup dengan menarik sedikit wajah serta ujung bibir agar tercipta sebentuk senyuman manis nan indah. ‎Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956 – Hasan ‎gharib. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Manfaat berbagi

Jangan takut berbagi akibat khawatir jika sesuatu milik kamu akan habis karena membaginya dengan orang lain. Menurutku, berbagi memberikan banyak faedah yang bisa dirasakan oleh pelakunya.

Perasaan bahagia. Segala kekhawatiran yang mungkin sempat muncul akan sirna begitu melihat senyum bahagia menghiasi wajah-wajah penerima pemberian kita. Ternyata, berbagi dengan orang lain hanya akan menumbuhkan rasa bahagia dalam kehidupan kita.

Menjadi lebih sehat. Rasa bahagia akan menjadi stimulus terbaik bagi kesehatan. Hal tersebut akan mendorong sel-sel tubuh bermetabolisme lebih baik. Sehingga, pada ujungnya tentu akan meningkatkan kualitas kesehatan seseorang yang sering berbagi dengan orang lain.

Menularkan kebaikan. Yup! Ternyata kebaikan itu menular. Mulai dari diri sendiri, lalu akan menular kepada orang lain. Kemudian proses itu terus berlanjut, dan tanpa terasa seluruh lingkungan pun akan ikut merasakan kebaikan tersebut.

Mengangkat derajat orang lain. Bayangkan. Mungkin hanya bermodalkan berbagi buku-buku pelajaran. Lalu, orang-orang yang membaca buku itu mendapatkan ilmu, mendapatkan gelar, hingga memperoleh pekerjaan. Bahkan ada yang membuka lapangan kerja untuk orang lain. Dari buku-buku yang kamu bagi itu memberi andil mencerdaskan seseorang dan mengangkat kehidupannya.

Menumbuhkan rasa syukur. Dengan berbagi, akan membuat kita melihat kondisi orang lain. Baru pada saat itu mungkin kita menyadari betapa beruntungnya kehidupan yang telah dijalani selama ini. Alih-alih yang awalnya gemar mengeluh, menjadi lebih sering bersyukur.

Mendorong rasa empati. Melalui kegiatan saling berbagi dan berbuat kebaikan, kita akan lebih peka untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Sehingga kita juga akan merasakan seandainya berada di posisi itu.

Dompet Dhuafa Dan Gerakan Jangan Takut Berbagi

Jangan Takut Berbagi

Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk bergerak bersama berbagi untuk kebaikan. Tagline “Jangan Takut Berbagi” dengan hestek #JanganTakutBerbagi menghiasi berbagai platform media sosial (medsos). Gerakan ini dalam rangka menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbagi kepada sesamanya yang lebih membutuhkan bantuan, pertolongan serta perhatian kita.

Dompet Dhuafa adalah lembaga Filantropi Islam. Sumber dananya berasal dari dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf). Selain itu ditambah dengan dana halal lainnya, seperti melalui donasi. Kesemuanya dikumpulkan sebagai upaya pemberdayaan kaum dhuafa.

Kegiatan pemberdayaan oleh Dompet Dhuafa ini terdiri dari dua pendekatan. Yaitu pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship).

Tak sekadar diberi ikan, tapi justru diberi kail

Dana yang terkumpul oleh Dompet Dhuafa dari para donatur dan pemberi zakat (muzaki) akan dikelola dengan baik, transparan dan penuh kehati-hatian. Dompet Dhuafa akan menyalurkannya ke mustahik (penerima zakat) secara produktif. Ibaratnya, para mustahik tidak sekedar diberi “ikan”. Justru, para mustahik akan diberikan “kail”, diajari cara menggunakannya, agar pada akhirnya dapat mencari ikan sendiri. Tujuan utamanya sangat mulia, yaitu memutus rantai kemiskinan (dhuafa). Kegiatan ini dilakukan melalui empat sektor, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan, pengembangan sosial.

Jangan Takut Berbagi


Harapannya, para penerima donor bantuan (mustahik) akan berhasil mandiri dengan dana, ilmu serta keterampilan yang telah didapatkannya. Melalui kemandiriannya itu, Dompet Dhuafa akan lanjut mendorongnya naik tingkat menjadi pendonor, atau muzaki. Dompet Dhuafa menyebutnya program M3 (Mustahik Move to Muzaki) dan telah berjalan dengan baik.

Berbagi melalui Dompet Dhuafa

Kemudahan di era digital memberikan segala kemungkinan. Keinginan untuk ikut berbagi sebagai donatur dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf) pun dapat dengan mudah dilakukan melalui Donasi Dompet Dhuafa.

Jangan Takut Berbagi

Mengapa melalui Dompet Dhuafa? Karena beberapa alasan ini:

  • Sarat dengan pengalaman (mulai April 1993).
  • Mudah (dapat melalui online dan banyak pilihan).
  • Tersebar di berbagai tempat (memiliki cabang baik dalam maupun luar negeri, kantor perwakilan, serta list konter ZISWAF. Jadi, para donatur dapat berkunjung langsung secara offline).
  • Tujuan sangat jelas (memutus rantai kemiskinan).
  • Kemudahan komunikasi (via telepon atau online).
  • Transparan (informasi mudah didapat), serta
  • Diakui negara ( 8 Oktober 2001, Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 439 Tahun 2001 tentang Pengukuhan Dompet Dhuafa Republika sebagai Lembaga Amil Zakat tingkat nasional).

Jadi, dengan segala kelebihannya, maka tidak perlu lagi untuk ragu. Jangan Takut Berbagi bersama Dompet Dhuafa, Insya Allah lebih mudah, penuh manfaat, mendatangkan kebahagiaan. Serta akan menjadi ladang amal bagi kita, dan menjadi bekal di akhirat kelak. Aamiin Ya Rabb.

Penutup

Jangan Takut Berbagi. Mari kita bersama-sama bersinergi dalam kebaikan. Di era digital ini, semua saling berkolaborasi, dan bersinergi. Semua melakukannya secara bersama-sama. Termasuk dalam kebaikan. Karena, melakukan kebaikan secara bersama-sama melalui Dompet Dhuafa akan berdampak lebih dahsyat ketimbang melakukannya sendirian.

Berbagi dapat dimulai dari lingkaran terkecil kita, yaitu keluarga. Memberikan contoh dan praktek kebaikan agar jangan takut berbagi, dengan dimulai dari diri kita sendiri, dari para orang tua. Mengajarkan untuk saling berbagi kepada anak akan menumbuhkan berbagai manfaat serta kebaikan dalam diri mereka. Sehingga akan sangat berguna dalam kehidupan mereka ketika dewasa kelak.

Jangan takut berbagi, karena berbagi itu adalah suatu hal yang mudah dan membahagiakan.

[END]

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
Jangan Takut Berbagi
Sumber:

  • Cover: foto oleh Liane Metzler | Unsplash.com, diolah mandiri
  • Portal Dompet Dhuafa https://www.dompetdhuafa.org/
  • Laman Donasi Dompet Dhuafa https://donasi.dompetdhuafa.org/ 
  • Portal Lomba Blog “Jangan Takut Berbagi” https://donasi.dompetdhuafa.org/lombablog/
error: Content is protected !!