Gaya Hidup

Jurus Perpustakaan Unsyiah Lampaui Harapan di Era Milenial

Bagiku, perpustakaan adalah tempat yang spesial. Disini aku pertama kali berkenalan dengan Pram, Chairil Anwar, dan pujangga-pujangga kenamaan lainnya. Di tempat ini pula aku menemukan kedamaian. Dalam perenunganku sambil membaca, aku menggali pengetahuan baru yang memantik kreativitas dan inovasi. Di perpustakaan, harapanku terlampaui. 

Lusinan jajaran rak yang penuh dengan susunan buku-buku tertata rapi di perpustakaan. Menunggu bagi siapapun yang ingin meraihnya lalu menggali berbagai kisah, informasi, pengetahuan dari buku tersebut. Suasana magi perpustakaan menghadirkan ilmu pengetahuan. Di sini, pembaca seakan berkomunikasi intens dengan buku yang sedang dibacanya.

Perpustakaan memainkan peranan penting dalam memperkenalkan dan mengembangkan pengetahuan. Sebenarnya, ada banyak orang yang suka membaca. Namun, karena tingginya harga buku, mereka tidak mampu membelinya. Ada kekosongan antara haus pengetahuan dan ketidakmampuan mendapatkan pengetahuan tersebut akibat tingginya harga buku yang tidak terbeli. Bahkan mereka yang berkecukupan dari sisi materi pun tidak akan mampu membeli semua kebutuhan buku yang diperlukan untuk bahan menyelesaikan studi.

Perpustakaan hadir mengisi ruang tersebut. Kamu dapat menjadi anggota perpustakaan, lalu meminjam buku-buku berharga dari perpustakaan tersebut, tanpa perlu membelinya. Minimal, biaya yang dikeluarkan hanya sekedar membayar biaya keanggotaan saja.

Hal ini aku alami ketika masa-masa kuliah dulu. Ketidakmampuan membeli buku literatur yang harganya cukup tinggi, membuat perpustakaan menjadi perhentian favorit di kala selesai kuliah di kelas. Yup! aku adalah satu dari jutaan pihak yang sangat terbantu dengan keberadaan perpustakaan. Bahkan hingga kini, aku pun masih sering ke perpustakaan. Sebut saja Perpustakaan Nasional di Jakarta.

  Pentingnya Perpustakaan  

Dapat dikatakan, perpustakaan adalah pintu gerbang menuju luasnya pengetahuan dan ragam budaya. Perpustakaan memainkan peran mendasar di masyarakat terkait interaksi mereka terhadap pengetahuan. Sumber daya dan layanan perpustakaan sebenarnya menciptakan peluang untuk belajar, mendukung literasi dan pendidikan, dan membantu membentuk ide-ide dan perspektif baru. Hal ini penting untuk mendorong masyarakat yang kreatif dan inovatif.

Perpustakaan juga membantu memastikan merekam berbagai catatan pengetahuan otentik yang dibuat dan diakumulasikan oleh generasi sebelumnya, untuk terus dipelajari dan dikembangkan oleh generasi masa depan.

Seperti diungkapkan oleh Ben White, Kepala Kekayaan Intelektual Perpustakaan British (Head of Intellectual Property, British Library) tentang pentingnya peran perpustakaan. Di dunia tanpa perpustakaan, akan sulit untuk memajukan penelitian dan pengetahuan manusia atau melestarikan pengetahuan dan warisan kumulatif dunia untuk generasi mendatang. Bahkan, perpustakaan selalu menyertai tiap peradaban besar dari masa ke masa.

  Perpustakaan dan Kemajuan Peradaban  

Fakta sejarah mengatakan bahwa tiap peradaban yang maju dan besar pada masa-masa yang telah lalu selalu memiliki perpustakaan yang hebat. Sebut saja pada masa Khalifah Abbasiyyah. Puncak peradaban Islam  masa lalu memiliki perpustakaan yang menampung segala ilmu dan menjadi tempat untuk mencari bahan-bahan rujukan penelitian dari seantero dunia. Tidak sekedar menjadi perpustakaan, tapi juga menjadi pusat penelitian. Julukannya pun sangat terkenal, Bayt al-Hikmah, yang artinya Rumah Kebijaksanaan.

Lalu perpustakaan Khalifah Umayyah di Andalusia juga menampung banyak sekali koleksi buku pengetahuan serta penelitian yang sangat berguna. Ada yang mengatakan jumlah katalog yang memuat nama-nama buku di sana terdiri dari 44 katalog. Masing-masing katalog terdiri dari 50 lembar. Bila dijumlah, katalog buku-buku di Perpustakaan tersebut terdiri dari 2200 halaman. Setidaknya, ada sekitar 100 ribu buku yang memenuhi koleksi perpustakaan ini.

Menilik lebih jauh lagi, perpustakaan Alexandria (atau perpustakaan Iskandariyah) adalah perpustakaan terbesar di masa kuno. Menurut perkiraan, perpustakaan yang didirikan pada awal abad ke-3 SM ini menyimpan sekitar 400 ribu hingga 700 ribu koleksi naskah pada masa puncaknya.

Di masa modern, gelar perpustakaan terbesar di dunia saat ini dipegang oleh British Library. Berlokasi di Inggris, perpustakaan ini menyimpan lebih dari 170 juta koleksi. Koleksinya sangat berharga, mulai dari buku, jurnal penelitian, hingga manuskrip dan naskah kuno. Salah satu koleksi unggulan perpustakaan ini yaitu cetakan pertama Codez Arundel, buku yang ditulis oleh Leonardo Da Vinci.

Pemerintah pun sebenarnya sudah berupaya mengatur tentang perpustakaan melalui Undang Undang, dan juga memandang pentingnya perpustakaan terhadap peradaban suatu bangsa.

Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, salah satu tujuan perpustakaan adalah dapat menjadi sebuah wadah sebagai modal perubahan dan membangun peradaban suatu bangsa.

 

  Rendahnya Minat Baca Generasi Milenial  

Suka atau tidak, generasi milenial cenderung tidak tertarik untuk membaca. Banjirnya informasi digital yang lebih banyak ditampilkan dalam bentuk visual menjadi salah satu penyebabnya. Tidak percaya? Belum lama ini, generasi milenial terpapar demam aplikasi tiktok. Saking hebohnya, tidak hanya generasi milenial yang terpapar demam tiktok ini, melainkan juga generasi yang berumur lebih tua, bahkan sampai dengan generasi baby boomers pun keranjingan. Lalu, di awal bulan Februari 2019, ramai pemberitaan tentang Atta Halilintar. Salah satu Youtuber tanah air ini berhasil menjadi youtuber pertama di Asia Tenggara yang berhasil menembus torehan jumlah pelanggan (subscriber) hingga melebihi 10 Juta.

Inilah tantangan yang harus dihadapi perpustakaan di era “zaman now”. Bagaimana caranya agar generasi milenial tertarik untuk kembali ke perpustakaan.

  Perpustakaan Menjawab Tantangan di Era Industri 4.0  

Perpustakaan juga perlu berbenah menghadapi perubahan zaman. Generasi milenial di era industri 4.0 sudah sangat akrab dengan segala hal yang serba digital. Segala hal dapat dilakukan lewat genggaman tangan (baca: smartphone). Selain itu, perpustakaan mesti jeli menangkap hal-hal yang sangat digandrungi oleh generasi ini, yaitu yang cenderung menyukai hal-hal berbau kreativitas dan berbeda. Jadi dua hal yang perlu disentuh dan digarap oleh perpustakaan untuk menjawab tantangan ini: Digital dan Kreativitas.

Dua hal ini, menurutku, menjadi jurus yang penting untuk dilakukan. Dua jurus tersebut untuk mengoptimalkan manfaat perpustakaan. Menurut Emily R. Ehret (2018), perpustakaan menawarkan tiga manfaat. Triple R, singkatan dari Reading, Research dan Recreation.

Digital

Perpustakaan sebagai tempat membaca (reading), melakukan riset (research) dan rekreasi (recreation). Ketiganya harus dapat dihadirkan kepada pengunjungnya tidak hanya dalam bentuk ruang perpustakaan, tapi juga dalam bentuk digital, melalui internet dan aplikasi. Penyediaan ruang audio visual, sarana koneksi internet seperti wifi, modem, sampai dengan ruang-ruang perpustakaan virtual. Pelaksanaan acara-acara secara online lewat berbagai platform media sosial pun akan sangat membantu merangkul generasi milenial.

Kreativitas

Menghadirkan kegiatan membaca (reading), melakukan riset (research) dan rekreasi (recreation) secara kreatif. Contohnya seperti gelar komunitas, diskusi, dan seminar. Bahkan, pengenalan literasi pada anak-anak usia dini juga akan dapat menarik para orang tua yang masih tergolong milenial dan menemani anak-anak usia dini tersebut untuk turut kembali ke perpustakaan.

Dengan dua jurus optimalisasi digital dan kreativitas, tiga manfaat (Reading, Research dan Recreation) akan tercapai. Pengunjung pun akan terangsang untuk tidak hanya membaca, namun juga membangun imajinasi, kreasi, serta berbagai eksplorasi dengan cara yang menyenangkan. Berbagai hal menarik ternyata dapat dilakukan di perpustakaan oleh generasi milenial. Hal ini dapat langsung menyentuh generasi milenial yang notabene sensitif terhadap pengalaman (experience-based) yang dialaminya.

Dan ternyata, hal-hal seperti ini sudah dilakukan oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, atau singkatnya disebut Unsyiah. Mari disimak.

  Perpustakaan Unsyiah  

Perpustakaan yang menjadi bagian dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini termasuk perpustakaan yang memiliki kualitas paling baik di tanah air. UPT. Perpustakaan Unsyiah memiliki lebih dari 75 ribu koleksi yang terdiri dari buku, jurnal, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, referensi, laporan penelitian, CD-ROM, hingga dokumentasi.

dindindonk.com

| dindindonk.com | Jajaran rak buku di Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

Perpustakaan Unsyiah menyadari pentingnya kualitas perpustakaan dalam memperbaiki kualitas sebuah universitas. Universitas dengan kualitas baik akan dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas bangsa, yang pada akhirnya akan membangun peradaban bangsa tersebut.

dindindonk.com

| dindindonk.com | Suasana di Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

Pembenahan kualitas yang dilakukan oleh Perpustakaan Unsyiah tidak main-main. Peningkatan akreditasi Unsyiah dari C menjadi A sebagai salah satu universitas terbaik di tanah air tidak terlepas dari kualitas perpustakaan Unsyiah ini.

dindindonk.com

| dindindonk.com | Suasana Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

Dirangkum dari laman library.unsyiah.ac.id dan unsyiah.ac.id, Pada tahun 2018 lalu Perpustakaan Unsyiah mendapat sertifikasi ISO 27001 pada bidang Keamanan Informasi Sistem Perpustakaan. Pencapaian tersebut karena keberhasilan Unsyiah terhadap tiga hal ini. Pertama, dengan adanya aplikasi Online Public Access Catalog (OPAC). Kedua, dengan adanya Open Educational Resources (EOR). Ketiga, dengan adanya Room Booking.

Pencapaian ini tergolong luar biasa, karena Perpustakaan Unsyiah adalah satu-satunya perpustakaan perguruan tinggi yang memegang ISO 27001 di tanah air.

  Mengapa Perpustakaan Unsyiah Spesial?  

Ada beberapa hal yang menjadikan Perpustakaan Unsyiah ini berbeda dibandingkan dengan perpustakaan lainnya. Perpustakaan ini benar-benar menerapkan 2 jurus sakti, yaitu digital dan kreativitas yang telah disebutkan sebelumnya untuk mengoptimalkan tiga manfaat perpustakaan. Yuk kita simak.

Go Digital

Pertama, Perpustakaan Unsyiah menyentuh ranah media sosial (medsos) yang notabene merupakan “tempat bermain” generasi milenial. Praktis, keberadaannya terpantau oleh generasi ini. Tidak hanya sekedar hadir, tapi juga aktif dengan membagikan berbagai kegiatannya melalui berbagai platform medsos.

 

Kedua, Perpustakaan Unsyiah juga memberikan pelayanan digital. Kamu dapat mencari judul buku dengan berbekal akses melalui komputer tanpa jasa pustakawan. Sebutannya: “Peminjaman Mandiri Perpustakaan Unsyiah”.

Tidak hanya itu, juga melayani melalui aplikasi yang dapat diunduh melalui smartphone, dengan nama UILIS Mobile. Melalui aplikasi ini, para mahasiswanya dapat mengakses Perpustakaan Unsyiah dengan lebih leluasa tanpa batasan waktu dan tempat.

 

Ramah Terhadap Generasi Milenial

Perpustakaan Unsyiah tidak menutup mata terhadap generasi zaman now yang memiliki karakter dan preferensi berbeda. Sadar dengan kegandrungan generasi ini pada segala hal yang berbau Korea, maka disediakan tempat yang khusus untuk itu. Namanya: Korea Corner.

dindindonk.com

| dindindonk.com | Penampakan Korea Corner di Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

 

dindindonk.com

| dindindonk.com | Penampakan isi ruangan Korea Corner di Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

 

| dindindonk.com | Susunan buku-buku tentang Korea yang terdapat di Korea Corner, Perpustakaan Unsyiah (foto: youtube – Profil Unsyiah)

Selain itu, untuk meningkatkan minat generasi milenial terhadap perpustakaan, dipilihkan Duta Baca. Terobosan kreatif ini agar dapat menjadi sumber motivasi dan inspirasi bagi seluruh mahasiswa Unsyiah. Duta Baca menjadi ikon Perpustakaan Unsyiah.

dindindonk.com

| dindindonk.com | Duta Baca Unsyiah (sumber: library.unsyiah.ac.id)

 

dindindonk.com

| dindindonk.com | Duta Baca Unsyiah (sumber: library.unsyiah.ac.id)

Banyak hal yang dilakukan untuk semakin menjaring minat generasi milenial. Seperti Majalah Librisyiana. Tidak sekedar majalah, tapi juga menjadi ajang komunitas yang menyatukan para anggotanya.

Perpustakaan Unsyiah juga memberikan apresiasi kepada civitas akademika Unsyiah yang telah memberikan kontribusi dalam memajukan perpustakaan melalui ajang Library Award.

Dan, yang tidak kalah seru, Perpustakaan Unsyiah juga mengadakan Unsyiah Library Fiesta, atau ULF. Ini merupakan acara besar tahunan UPT. Perpustakaan Unsyiah. Harapannya, melalui ULF, dapat menjadi inspirasi untuk kemajuan bersama, baik bagi Unsyiah, Aceh maupun Indonesia. Tahun ini, Unsyiah Library Fiesta 2019 pun kembali digelar sebagai cara menjadikan perpustakaan tidak sekedar menjadi tempat membaca, tapi juga menggali potensi serta eksplorasi kreasi.

Sebagai Melting Pot

Perpustakaan Unsyiah tidak sekedar menjadi tempat baca, tapi sudah lebih dari itu. Tempat ini telah menjadi sebuah Melting Pot, atau tempat bertemunya orang-orang dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendidik dan bermutu. Sebut saja beberapa diantaranya, seperti acara diskusi, workshop, gelar bakat dan kreativitas, dan juga seminar. Kegiatan-kegiatan ini membuat perpustakaan menjadi hidup dengan berbagai kegiatan.

dindindonk.com

| dindindonk.com | sumber: library.unsyiah.ac.id

Tidak Melupakan Fungsi Sosial 

Perpustakaan Universitas Syiah Kuala tidak melupakan fungsi sosialnya, yaitu melayani masyarakat. Berbagai pendekatan dilakukan untuk menarik minat masyarakat terhadap kegiatan membaca dan perpustakaan melalui pelaksanaan fungsi sosial. Sebut saja beberapa diantaranya, seperti membagi takjil gratis di Bulan Ramadhan, Mendongeng di CFD untuk anak-anak yang dilakukan oleh para Duta Baca. Juga melalui kegiatan volunteer (sukarelawan) di perpustakaan yang mengasah jiwa sosial serta melayani sesama di tempat itu.

dindindonk.com

| dindindonk.com | sumber: library.unsyiah.ac.id

Kualitas Mumpuni

Selain mendapatkan sertifikasi ISO 27001, UPT. Perpustakaan Unsyiah juga konsisten untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitasnya.

| dindindonk.com | sumber: library.unsyiah.ac.id

Pengakuan atas kualitas perpustakaan ini pun datang dari mahasiswa yang datang dari luar Unsyiah. Seperti diutarakan oleh Erwin yang melaksanakan studi di Universitas Indonesia. Dirinya datang berkunjung ke Perpustakaan ini karena koleksi buku serta pelayanannya yang berkualitas.

“Saya memilih perpustakaan Unsyiah sebagai tempat penelitian skripsi saya, karena perpustakaan Unsyiah menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Alasan lainnya yaitu karena perpustakaan Unsyiah merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi daerah yang diakui oleh DIKTI sebagai perpustakaan yang memiliki perkembangan yang maju dan signifikan”

Erwin pun lantas mengungkapkan beberapa kelebihan perpustakaan ini yang tidak ada di perpustakaan asal Universitasnya. Pertama, diizinkan membawa makanan ke ruangan koleksi. Kedua, jam pelayanan perpustakaan Unsyiah lebih lama. Untuk lebih lengkapnya, dapat membaca artikelnya di sini.

 

  Penutup  

dindindonk.com

| dindindonk.com | Pengunjung sedang mengambil buku di rak perpustakaan (foto: youtube; Profil Unsyiah)

Perpustakaan tidak lagi sekedar tempat buku yang jumlahnya ribuan. Tapi juga tempat mengadakan berbagai kegiatan yang tidak sekedar menghidupkan tempat itu tapi juga menarik minat baca para pengunjungnya. Ada banyak ide lahir dari perpustakaan, dan apa yang dilakukan oleh UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala memang melampaui harapan. Selalu bergerak memberi inovasi dan motivasi. Tidak terdiam kaku dan gagu menghadapi perubahan zaman, tapi beradaptasi sehingga dapat menjadi yang terdepan dalam kualitas, dan terdepan memberikan sumbangsih bagi para anak bangsa. Memang benar-benar “beyond expectation”! [###]

*sumber foto cover: library.unsyiah.ac.id 


Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Unsyiah Library Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala.


 

Referensi:

  • muslimheritage.com (http://muslimheritage.com/)
  • Kanal Youtube: Profil Unsyiah (https://www.youtube.com/watch?v=9kjz2bmAl8w&feature=youtu.be)
  • Laman Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (http://library.unsyiah.ac.id/category/tentang-perpustakaan/)
  • Laman Universitas Syiah Kuala (http://unsyiah.ac.id/)
  • Life in the library: reading, research, and recreation; By Emily R. Ehret, September 21, 2018
    (https://college.uchicago.edu/news/student-stories/life-library-reading-research-and-recreation)
error: Content is protected !!