Jalan Jajan

Festival Imlek dan Cap Go Meh Jadi Kemeriahan Wisata Kota Singkawang

*cover: Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang (foto: inframe)


 

Kota Singkawang selama ini telah dikenal sebagai kota penyelenggara Festival Imlek dan Cap Go Meh. Kepopulerannya tidak hanya di  tanah air, tapi juga merambat hingga mancanegara. Namun, tidak hanya itu yang ditawarkan Singkawang. Kota ini kental dengan suasana budaya, sejarah dan religi yang saling berdampingan secara harmonis. Belum lagi, wisata alam nan memikat serta kenikmatan kuliner khasnya. Semuanya berpadu saling melengkapi, memberi warna keindahan Kota Singkawang.

 

Geliat pembangunan infrastruktur selama beberapa tahun terakhir turut menghampiri Kota Singkawang. Di kota yang terletak sebelah barat Provinsi Kalimantan Barat ini, pembangunan juga ikut dirasakan masyarakatnya. Beberapa waktu lalu, Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly melakukan pencanangan pembangunan Bandara Singkawang. Tepatnya pada Senin, 18 Februari 2019. Nantinya, di Kecamatan Pangmilang, Singkawang Selatan, Kalimantan Barat, akan berdiri bandara megah. Bandar udara yang dijadwalkan selesai pada 2022 ini akan melayani masyarakat wilayah Singkawang dan sekitarnya. Rencananya, bandara ini akan memiliki landasan pacu ultimate sepanjang 2.500 meter. Landasan pacu sepanjang itu mampu menampung pesawat Boeing 737-900.

Kepingin tahu bagaimana kira-kira wujud Bandar Udara Kota Singkawang (Singkawang City Airport)? Bisa langsung dikepoin sekalian follow akun instagram @pastikesingkawang_id. Berdasarkan keterangan, desain dasar airport ini mengacu pada pendekatan etimologis. Konsep ini lalu dikombinasikan dengan elemen arsitektur vernacular yang mengakar pada keanekaragaman budaya etnis di Singkawang, yaitu Tionghoa, Dayak, serta Melayu (Tidayu).

View this post on Instagram

Basic Design of Singkawang City New Airport Basic Design is based on an etymological approach from the origin name of Singkawang city (San Khew Jong) which means that the city is located in the hills, adjacent to the sea and estuary, then combined with venular architectural elements of ethnic cultural diversity in Singkawang namely Tionghoa, Dayak, and Malay (Tidayu). ©@phlarchitects Hendy Lim . . . . . #hendylim #phlarchitects #renderarchitecture #render #exterior #arc_only #architecturelovers #designboom #design #dezeen #airport #airportapron #arsitekturindonesia #indonesianarchitecture #archdaily #competition #bandara #singkawang #westborneo #kalimantan #city #basicdesign #design #PastiKeSingkawang

A post shared by Disparpora Singkawang (@pastikesingkawang_id) on

Wow! Hebat ya. Tapi jangan khawatir. Sambil menunggu bandar udara baru ini rampung, kamu masih bisa ke Singkawang kok. Biasanya, bila menggunakan pesawat, para pelancong melalui Kota Pontianak. Di ibukota Provinsi Kalbar ini ada Bandar Udara Internasional Supadio. Dari sini, kamu meneruskan perjalanan via darat. Banyak penyewaan mobil tersedia di sekitar bandara. Kota Singkawang terletak sekitar 145 km sebelah utara Kota Pontianak. Perjalanan darat antar kedua kota ini menempuh waktu sekitar 3 hingga 4 jam.

Bila kamu menggunakan bus Damri, dapat langsung berangkat dari Bandara Supadio. Ongkos perjalanan sekitar 100 ribu Rupiah per trip. Damri menyiapkan 5 armada dengan interval keberangkatan sebanyak 5 kali tiap harinya. Yaitu pukul 09.00, 11.00, 12.00, 13.00, dan 14.00 WIB. Wisatawan asal Malaysia juga dapat menggunakan jalur darat. Langsung dari Kota Kuching menuju Singkawang melalui pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di Sambas, Kalbar.

Kamu juga dapat dengan mudah menemukan penginapan di sini. Kota Singkawang menawarkan beragam hotel. Dengan berbagai kelas sesuai kebutuhan dan kemampuan pengunjung. Banyak yang memberikan harga ramah kantong. Sebut saja  penginapan dengan harga di bawah Rp200 ribu seperti Airy Graha, Wahana Inn, Astina Graha dan Airy Singkawang Tengah. Hotel berbintang pun tersedia. Contohnya Hotel Swiss-Belinn Singkawang dengan kisaran mulai Rp800 Ribu per malamnya.

Berada pada Garis lintang/Garis bujur: 0° 54′ 33″ N / 108° 59′ 5″ E, Singkawang tidak jauh dari garis Khatulistiwa. Artinya, cuaca tropis di kota ini dapat kamu nikmati sepanjang tahun. Ada baiknya bila kamu mempersiapkan topi atau payung. Dianjurkan juga memakai sepatu yang nyaman, serta baju sesuai kondisi cuaca yang kaya sinar matahari. Kadangkala, pemakaian Cream SPF atau sun block juga disarankan untuk menghindari kulit kamu terbakar akibat sorotan sinar mentari yang cukup terik di siang hari.

 

Kota Singkawang juga disebut San Khew Jong (Hanzi: 山口洋; Hanyu Pinyin: Shānkǒu Yáng; Melayu Jawi: كوتا سيڠ كوانڠ). Singkawang dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Penamaan Singkawang berasal dari bahasa Hakka, San Khew Jong. Penyebutan ini mengacu pada sebuah kota yang lokasinya dekat dengan estuari serta bukit tak jauh dari laut.

Tanda kamu sudah sampai Kota Singkawang bila sudah melewati gerbang selamat datang kota, yang seakan menyambut kedatangan para pengunjungnya. Di kota ini, berbagai atraksi wisata menarik telah siap menanti kehadiranmu. Festival Imlek dan Cap Go Meh memang menjadi atraksi utama. Tapi, Singkawang juga menyimpan berbagai keindahan yang tak kalah menakjubkan. Kamu bisa menikmati keindahan Kota Singkawang dengan melakukan city tour. Menyelam dalam harmoni budaya, sejarah serta religi sambil menikmati kuliner Singkawang yang khas. Belum cukup? Hamparan alam nan indah juga menjadi obyek wisata yang tidak dapat dilewatkan begitu saja.

Imlek dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Tionghoa. Perayaan tersebut sebagai wujud syukur terhadap hasil kerja keras selama setahun. Waktu ini menjadi momen untuk beristirahat dan bersantai bersama keluarga tercinta. Selain itu, perayaan imlek sebagai bentuk pengharapan akan keberuntungan dan kesejahteraan di tahun mendatang.

Masuk kalender tahunan Kementerian Pariwisata

Sementara di Indonesia, Imlek dan Cap Go Meh juga dirayakan dengan penuh kemeriahan. Bahkan, Festival Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang sudah menjadi bagian dari kalender tahunan Kementerian Pariwisata sejak tahun 2009. Pada tahun 2019 ini, Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang berlangsung mulai tanggal 5 hingga perayaan puncaknya tanggal 19 Februari.

Inilah atraksi utama yang menjadi andalan Singkawang. Baik di mata pengunjung tanah air maupun mancanegara, Festival Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang menjadi sesuatu yang paling ditunggu. Segala pernak pernik kemeriahan dan keunikannya pun menjadi bahan pembicaraan nan memukau wisatawan.

Setiap tahun, Kota Singkawang menjadi tuan rumah penyelenggaraan salah satu event tahunan terbesar di Indonesia. Semarak Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang menjadi atraksi sarat keajaiban serta aroma mistis. Di sini, keberagaman dirayakan dengan penuh warna dan suka cita.

Di kota ini, tidak hanya permukiman masyarakat Tionghoa yang berbenah. Sepertinya, seluruh pelosok kota yang dikenal dengan julukan “Kota Seribu Kelenteng” sumringah, sekaligus serius menyambut ajang festival tahunan yang selalu dinanti. Kota Singkawang berhias.

Prosesi Buka Mata Replika 12 Naga

Ritual Buka Mata 12 Replika Naga dilakukan di Vihara Tri Darma Bumi Raya. Atraksi ini mampu mengundang antusiame ribuan pengunjung. Baik wisatawan lokal dan mancanegara, ataupun masyarakat Singkawang.
Saking padatnya, jalan-jalan di seputaran vihara penuh dengan berjubelnya para pengunjung. Mereka penasaran ingin melihat secara langsung prosesi ritual ini.

Nanti, pada akhir kegiatan Cap Go Meh, kedua belas naga ini akan dibakar di lapangan Vihara Buddhayana Roban (Chai Thong). Hal ini sebagai pertanda segala rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut telah selesai. Masyarakat pun akan kembali larut dalam kesibukannya masing-masing.

Festival Pawai Lampion

Perayaan hari Cap Go Meh dilangsungkan setiap 15 hari setelah tahun baru Imlek. Cap Go Meh dirayakan oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Hari Cap Go Meh merupakan penutup dari rangkaian perayaan tahun baru imlek. Kata Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien. Terdiri dari dua kata, yaitu Cap Go artinya lima belas dan Meh yang memiliki arti malam. Jadi, kata Cap Go Meh dapat diartikan sebagai “malam kelima belas”.

Dalam dialek Hakka, Cap Go Meh disebut Cang Nyiat Pan. Terdiri dari dua kata, cang nyiat adalah bulan satu dan pan itu pertengahan. Sehingga Cang Nyiat Pan berarti pertengahan bulan satu. Sementara, negeri daratan Tiongkok juga merayakan Cap Go Meh, namun penyebutannya menjadi Yuan Shiau Ciek dalam bahasa mandarin. Artinya yaitu “festival malam bulan satu”. Cap Go Meh secara internasional dikenal sebagai “The Lantern Festival”. Disebut demikian, karena lampion sangat dominan sebagai hiasan utama perayaan Cap Go Meh.

Setiap hari sejak berlangsungnya perayaan Imlek hingga puncak perayaan Cap Go Meh, selalu ada penampilan kebudayaan di kota Singkawang. Rangkaian penampilan yang ditunggu adalah “Festival Pawai Lampion”. Perayaan dengan tema utama lampion ini berlangsung pada hari ke-13 setelah tahun baru Imlek. Uniknya, tidak hanya masyarakat Tionghoa saja yang meramaikan pawai lampion ini tapi juga diikuti oleh seluruh masyarakat dari berbagai etnis di Singkawang. Mereka semua larut dalam kegembiraan dan kebersamaan.

Ornamen khas Imlek dan Cap Go Meh mudah sekali dijumpai di seluruh pelosok kota. Mulai dari pemukiman, pusat keramaian hingga pertokoan dan perkantoran. Semuanya berlomba mempercantik diri, dihiasi dengan lampion serta berbagai ornamen lainnya. Di jalan-jalan utama Kota Singkawang pun demikian. Deretan lampion menjadi hiasan utama. Sementara, sambil menikmati eksotisme kota, sayup-sayup terdengar lantunan musik-musik khas Tionghoa.

Tatung yang ditunggu

Pada saat Cap Go Meh, ada kepercayaan bahwa Kota Singkawang menjadi pusat berkumpulnya para dewa. Singkawang pun merayakan momen berkumpulnya para dewa ini dengan penuh kemeriahan. Cap Go Meh di Kota Singkawang diramaikan dengan pertunjukan khas Tionghoa. Mulai dari barongsai, ular naga, choi lam shin atau keranjang jelangkung. Tapi ada satu yang paling istimewa, yaitu atraksi Tatung. Atraksi ini membuat perayaan Cap Go Meh di Singkawang memiliki keunikan tersendiri.

Penampilan arak-arakan Tatung yang penuh nuansa mistis menjadi sesuatu hal dinantikan oleh para pengunjung. Bagi kamu yang belum tahu, Tatung dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki oleh para ksatria, leluhur atau dewa dalam kepercayaan Kong Hu Cu. Dimana raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara roh leluhur atau dewa dengan manusia. Dengan menggunakan Mantra dan Mudra tertentu roh dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga para Tatung.

Tatung yang telah kerasukan kemudian menjadi kebal terhadap berbagai senjata tajam. Dalam kondisi di bawah alam sadar, para Tatung mempertunjukkan ilmu kesaktiannya. Mulai dari aksi menusuk pipi, kebal dengan senjata tajam, hingga aksi mengupas kelapa dengan gigi. Tidak cukup sampai di situ, aksi menusuk tubuh dengan batang besi atau kawat, mengiris lidah dengan pisau, pengais pedang ke badan, berdiri diatas pedang, dan lainnya mereka lakukan tanpa merasa kesakitan. Bahkan, ada pula aksi menggigit ayam atau binatang lainnya. Kamu jangan terkejut ya, aksi ini kadang penuh darah. Walaupun begitu, luka-luka tersebut konon akan cepat sembuh setelah para Tatung memperoleh kembali kesadarannya. Atraksi ini dapat kamu saksikan bersama ribuan pengunjung lainnya di Pasar Tengah, Kota Singkawang.

Yang unik, ternyata Tatung tidak didominasi kaum pria. Ada juga Tatung wanita. Terlebih, karena tidak sembarang orang bisa menjadi Tatung. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa menjalankan peran tersebut. Jadi bila ada Tatung wanita, pasti memang hebat ya.

Arak-arakan para Tatung kemudian dibawa keliling kota. Menurut kepercayaan, hal tersebut dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat di Kota Singkawang. Warga etnis Tionghoa di Singkawang meyakini para ksatria, dewa ataupun leluhur yang merasuki Tatung akan membantu mereka mengusir roh jahat agar kehidupan masyarakat lebih damai. Atraksi unik ini membuat nama Kota Singkawang menjadi terkenal. Banyak wisatawan baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri penasaran ingin melihat atraksi para Tatung di Festival Cap Go Meh Singkawang.

Sedekah babi dan lelang barang

Saat perayaan Cap Go Meh masyarakat Tionghoa juga saling berbagi dengan yang membutuhkan. yaitu pembagian sedekah. Sedekah ini berupa daging babi yangtelah dipersiapkan dalam kantong plastik kecil. Kantong-kantong plastik ini lantas dibagikan kepada warga kurang mampu yang telah mendapatkan kupon dari panitia.

Acara pembagian sedekah ini biasanya berlangsung di sekitar patung naga yang merupakan ikon Kota Singkawang. D tempat ini panitia Cap Go Meh juga menggelar acara lelang. Beberapa jenis barang yang dilelang, mulai dari buah-buahan, makanan kaleng, minuman. Patung-patung berwarna keemasan juga ikut dilelang di tempat ini.

Hanya saja, acara lelang dilakukan dengan menggunakan Bahasa China Khek. Jadi hanya orang yang mengerti saja yang bisa melakukan tawar-menawar di lelang ini. Kamu mau ikutan acara lelang unik ini? Harus bisa Bahasa Khek lho! Kegiatan lelang adalah ungkapan saling membantu dalam budaya masyarakat Tionghoa di Singkawang. Itulah sebabnya, harga barang-barang yang ditawarkan di lelang biasanya lebih besar dari harga pasaran.

 

Di tengah keseruan kamu menikmati rentetan berbagai kegiatan Festival Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang, jangan lupakan untuk memenuhi kebutuhan makan kamu. Acara yang berlangsung sepanjang hari pasti membutuhkan banyak energi.  Tapi jangan takut. Di Kota Singkawang banyak kuliner yang lezat. Apalagi, dipadukan dengan suasana yang hanya dapat kamu temui di hari besar seperti Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang 2019.

Mi panjang umur

Menilik dari namanya, kamu pasti tidak akan salah tebak. Yup, kamu harus makan mi ini supaya panjang umur. Jamuan khas saat Imlek di Singkawang ini tidak boleh kamu lewatkan begitu saja. Lucunya, kalau di hari-hari biasa, mi ini memiliki nama asli Mi Asin Singkawang. Nama lainnya yaitu Misoa atau Misua.

Sehari sebelum merayakan Imlek harus makan Mi Panjang Umur bersama keluarga. Mi panjang umur dimasak lalu disajikan di dalam wadah besar. Seluruh anggota keluarga berkumpul. Sambil memegang sumpit bersama dan mengelilingi wadah tersebut, kemudian mengacak-acak mi dalam wadah sambil berdoa sebelum memakannya bersama-sama.

Biasanya, sajian pelengkap mi umur panjang terdiri dari beberapa macam, tergantung selera. Umumnya terdiri dari bumbu asin khas. Ditambah lauk pauk lengkap, seperti ayam dan ikan. Ada juga yang menyajikannya bersama sirip ikan hiu.

Keseruannya tidak hanya saat sebelum imlek saja lho. Setelah Cap Go Meh berakhir, mi ini dibagikan untuk dibawa kepada anggota keluarga yang akan kembali lagi ke perantauannya.

 

Kuliner khas Singkawang lainnya tak kalah nikmat

Untuk kamu pemburu kuliner, Singkawang adalah kota yang akan memanjakan kamu dengan berbagai jenis makanan khasnya. Terlebih di saat perayaan Festival Imlek dan Cap Go Meh. Setidaknya ada empat kuliner khas yang wajib kamu nikmati.

 

Romantisme Kota Singkawang mengiringi kemeriahan Imlek dan Cap Go Meh. Setidaknya ada dua tempat wajib kamu datangi yang akan membuat kamu semakin merasakan atmosfer serta romantisme Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang.

 

Setelah kamu mengikuti berbagai kegiatan Festival Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang, jangan lupa menikmati suasana romantisme sore hari di Kota 1000 Kelenteng ini. Tempat yang paling baik yaitu dengan menikmati terbenamnya matahari dari tepi pantai.

Pantai Pasir Panjang

Sesuai namanya, pantai ini memiliki panjang 3 Km. Cukup panjang ya! Itulah sebab penamaan tempat ini sebagai Pantai Pasir Panjang. Jaraknya tidak terlalu jauh. Kamu hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari Kota Singkawang. Tidak hanya menjadi kebanggaan warga Kota Singkawang, tapi keberadaan Pantai pasir panjang ini sudah menjadi ikon wisata di Provinsi Kalimantan barat. Dengan hamparan pasir berwarna putih, bersih dan indah, dan deburan ombak Laut Natuna, membuat suasana damai melupakan lelah setelah kamu mengikuti festival yang padat dengan berbagai kegiatan itu.

Suasana di Pantai Pasir Panjang (foto: hardrock fm)

Selain bersantai, pantai ini juga cocok untuk bermain voli pantai bersama teman-teman kamu. Pecinta pantai tidak boleh melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke pantai yang satu ini.

 

Rasanya tidak lengkap bila berkunjung ke Kota Singkawang tapi tidak mengagumi suasana keberagaman masyarakatnya. Menyatu dalam harmoni yang penuh dengan kedamaian. Kota ini tidak hanya terkenal dengan julukan “Kota 1000 Kelenteng” saja, tapi juga memiliki banyak julukan. Sebut saja Kota Amoi, Kota Tasbih,  Hongkong van Borneo, atau “Sepetak Hongkong”. Semua julukan tersebut menggambarkan keberagaman yang membentuk masyarakat Singkawang.

Kota Singkawang ini memberi inspirasi terbaik tentang toleransi. Sebab, masyarakat kota ini dikenal sangat religius. Masyarakatnya bebas beribadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Kamu dapat menemui banyak sekali kelenteng disini. Tapi jangan kaget, karena mesjid megah pun bebas berdiri di sini. Begitu pula dengan gereja. Semuanya saling memberi kebebasan untuk mempraktekkan ajaran agamanya tanpa mengganggu dan merendahkan lainnya. Nuansa ini tentu selalu menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung, baik lokal maupun mancanegara.

Masjid Raya Singkawang berdiri megah (foto: indonesiakaya.com)

Coba tengok Masjid Raya Singkawang. Letaknya hanya sekitar 200 meter dari Vihara Tri Darma Bumi Raya. Tempat ibadah umat Budha tertua di kota ini. Masjid ini berdiri tegak di tengah-tengah kawasan tempat tinggal masyarakat Tionghoa. Inilah cerminan kerukunan beragama yang sudah berlangsung sejak lama. Masjid Raya Singkawang dan Vihara Tri Darma Bumi Raya, keduanya simbol kerukunan multi etnis di Singkawang.

Vihara Tri Darma Bumi Raya di tampak depan dan Masjid Raya Singkawang di latar belakang. (Foto: cnnindonesia)

Di Kota Singkawang terdiri dari tiga etnis terbesar. Cina, Dayak dan Melayu. Ketiganya biasa disingkat dengan istilah “Cidayu”. Selain tiga suku ini, masih ada suku lainnya. Semuanya hidup secara berdampingan dan harmonis. Keanekaragaman budaya dan religi menjadi warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di sini. Keberagaman menjadi ciri dan daya tarik tersendiri bagi Kota Singkawang. Berbagai pesona budaya dapat dinikmati dari masing-masing etnis yang ada. Semuanya menyumbang warna bagi semaraknya Kota Singkawang tercinta.

Bagi wisatawan Tionghoa mancanegara yang berasal dari Singapura, Malaysia, dan sekitarnya, Festival Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang selalu menjadi atraksi yang menarik. Mengapa? Karena walau merayakan hari besar Tionghoa di Singkawang, tapi tidak hanya kebudayaan Tionghoa yang ditampilkan. Atraksi campuran budaya lokal seperti Dayak dan Melayu juga berpadu di sini. Kebudayaan Nusantara lainnya pun tutur ditampilkan. Dan perpaduan ini yang membuat perayaan Cap Go Meh di Singkawang berbeda dengan perayaan yang lain. Hal lainnya adalah, suasana keberagaman menjadi atraksi menarik dari Wisata Kota Singkawang bagi wisatawan, terutama mancanegara. Mereka mengagumi masyarakat Singkawang yang terbuka dengan perbedaan. Suatu contoh baik untuk terus mengingat landasan persatuan kita yang berdiri dari berbagai keberagaman untuk satu tujuan. Bhinneka Tunggal Ika.

Sebelum aku mengakhiri tulisan ini, yuk bersama kita tonton klip video yang menjadi theme song Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang 2019: Satu Tujuan.

 

#####


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang


 


#lombabloggenpiskw #pastikesingkawang #genpisingkawang #capgomehsingkawang2019


 

 

error: Content is protected !!